Citizen Reporter
Sekolah Negeri Tempat Belajar Keberagaman
Senator Kalimantan Barat belum lama ini mengadakan sosialisasi empat pilar MPR RI di SMA Negeri 7 Bagak Sahwa, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singka
Citizen Reporter
Staf DPD RI Thomas Diman
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Senator Kalimantan Barat belum lama ini mengadakan sosialisasi empat pilar MPR RI di SMA Negeri 7 Bagak Sahwa, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat.
Hadir dalam dalam sosialisasi para dewan guru, dan tenaga kependidikan lainnya termasuk kepala sekolah.
Yusak Ujang, Kepala Sekolah SMAN 7 dalam sambutnnya mengatakan bahwa sekolah ini sebagai bagian satuan Pendidikan Nasional yang dikelola langsung oleh negara, dalam hal ini Kemendikbud harus menampakkan ‘wajah Indonesia’ yang beraneka suku, budaya, adat istiadat, agama, aliran kepercayaan.
“Sekolah ini dibiayai negara, semua dari negara, maka siswa-siswinya juga dididik berdasarkan kominten bersama bagaimana negara ini dibangun” ujarnya.
Dalam paparannya, Maria Goreti mengapresiasi para tenaga kependidikan di sekolah itu akan komitmennya bahwa sekolah yang dipimpinnya mesti menampakkan keindonesiaan yang plural, majemuk, sehingga anak-anak dapat belajar dan terus membatinkan semangat nasionalisme, mencintai bangsanya, dan menjaganya dalam bingkai negara kesatuan.
“Sekolah publik atau sekolah negeri harus menjadi sarana semaian kebangsaan, karena di sana anak-anak dari berbagai etnis, agama, latar belakang budaya yang berbeda-beda membaur seperti ‘wajan besar’ pluralisme.” Kata Senator yang sedang memasuki periode keempat dalam mewakili masyarakat Kalimantan Barat ini.
Lebih lanjut Maria Goreti mengatakan bahwa harapan di atas akan terjadi dengan syarat para tenaga kependidikan memiliki insight yang sama tentang Keindonesian.
Tetapi sekolah negeri juga dapat menjadi sarana pendidikan sekterianisme sempit, radikalisme, dan intoleransi.
Maria Goreti mendengar juga keluhan para pelaku pendidikan yang mengalami kesulitan karena ketidaklengkapkan sarana prasarana di sekolahnya.
Hal itu sangat memengaruhi kegiatan belajar mengajar. Mereka kekuarangan ruang kelas yang terpaksa harus menumpang laboratorium.
Mereka juga belum memiliki lab Fisika dan komputer juga belum memadai. Bangunan sekolah ini sudah 16 tahun belum pernah direnovasi.
Pada akhir sesi Maria Goreti menyoroti apa yang dikeluhkan salah seorang guru maraknya fenomena miras di kalangan orang muda. Dia menekankan pentingnya peranan keluarga dalam membatinkan nilai-nilai Pancasila.
“Pentingnya pendidikan karakter yang dimulai dari Keluarga sebagai masyarakat terkecil. Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama. “Dalam keluargalah para anggota keluarga belajar saling mencintai, saling mengakui, saling menerima, dan saling melibatkan diri dalam dinamika hidup bersama,” Katanya di hadapan para pendidik
Di dalam komunitas terkecil itu, yaitu keluarga, anak-anak belajar perbedaan, keutamaan hidup.
Para guru diharapkan untuk tidak jemu-jemu mengajak orang muda untuk terus terlibat dalam kebaikan bersama, terlibat dalam masyarakat dimana mereka hidup.
Harapannya nilai-nilai yang dibatinkan dalam keluarga, mereka bawa untuk menjadi kesaksian hidup di antara mereka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/enator-kalimantan-barat-belum-lama-ini-mengadakan-sosialisasi-empat-pilar-mpr-ri-di-sma-negeri-7.jpg)