Breaking News

Jokowi Minta Dikritik, Politisi Demokrat : Mari Introspeksi Diri

Herzaky Mahendra Putra, selaku Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, meminta semua pihak untuk introspeksi diri. 

Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Herzaky Mahendra Putra, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat aktif mengkritik pemerintah. 

Herzaky Mahendra Putra, selaku Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, meminta semua pihak untuk introspeksi diri. 

"Untuk memahami apa maksud pernyataan ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu, kepada siapa pernyataan ini ditujukan," katanya, Selasa 16 Februari 2021.

Pertama, kata Herzaky, Presiden Joko Widodo mungkin meminta kepada para pendukungnya untuk introspeksi diri, untuk aktif mengkritik juga. 

Baca juga: Herzaky Ungkap Upaya Memperkuat Soliditas Demokrat

Selama ini, menurut Herzaky pendukung Presiden Jokowi mungkin hanya memuji dan mengiyakan apapun kebijakan dan langkah-langkah beliau. 

"Padahal, kondisi seperti ini kan berbahaya. Beliau mungkin belajar dari pengalaman almarhum Pak Harto. Semua orang dekat Pak Harto selalu memuji beliau dan selalu bilang rakyat masih membutuhkan beliau. 

Ternyata, ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi karena tekanan ekonomi global dan fondasi ekonomi Indonesia tidak cukup kuat karena kebijakan yang keliru, lalu menguatnya tekanan dari rakyat pada tahun 1998, para menteri, pembantu beliau di kabinet, dan pendukungnya balik badan semua. 

Membiarkan beliau mengatasi masalah sendiri, yang kemudian berujung kepada pengunduran diri di Mei 1998," paparnya.

Karena itulah, kata Herzaky, Pak Jokowi minta pendukungnya aktif mengkritik, jangan memuji-mujinya saja. 

"Pak Jokowi sepertinya habis membaca penilaian The Economist Intelligence Unit mengenai kinerja demokrasi Indonesia yang terus menurun. Bahkan, terjelek selama 14 tahun terakhir," tutur Herzaky.

"Beliau mungkin merasa sudah bekerja sebaik mungkin, lalu para pembantunya di kabinet juga memberitahu beliau kalau demokrasi kita baik-baik saja, tapi mengapa menurut berbagai lembaga demokrasi yang kredibel, kinerja demokrasi Indonesia ternyata terus menurun," ujarnya.

"Nah, mungkin karena itulah beliau minta para pendukungnya aktif mengkritik, mengingatkan kalau ada langkah beliau yang tidak berpihak pada rakyat," tambah Herzaky.

Herzaky pun mengutip Presiden Keenam Republik Indonesia, Bapak SBY, kritik itu laiknya obat. Dosisnya tepat, bakal mampu menanggulangi permasalahan. Sedangkan pujian itu laksana gula. Kalau berlebihan, bisa menyebabkan sakit.

Kedua, lanjut dia, kalau Presiden Joko Widodo menujukan pernyataannya ke koalisi masyarakat sipil, media, penggiat demokrasi dan ham, partai politik yang bukan koalisi pemerintah, dan rakyat kebanyakan, mungkin beliau dan para pejabat pemerintahannya yang mesti introspeksi diri. 

"Sudah banyak sebenarnya kritik yang dilayangkan. Apa belum cukup kritiknya selama ini? Malah, sekarang orang mulai khawatir kalau mengeluarkan pendapat," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved