Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Sempat Minta Sepatu Baru, Isak Tangis Keluarga Antar Dinda Amelia ke Pemakaman

Waktu dia mau berangkat itu, mungkin ini tanda-tandanya juga sih ya. Dia itu minta dibeliin semuanya serba baru

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Abrori
Suasana duka rumah duka jenazah Dinda Amelia, korban kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ 182 asal Kabupaten Kubu Raya, di Pemakaman Muslim Sungai Durian, Kabupaten Kubu Raya, pada Minggu 17 Januari 2021 pagi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Dinda Amelia tiba di rumah duka, Minggu 17 Januari 2021.

Kedatangan gadis 15 tahun ini disambut isak tangis pihak keluarga dan orang sekitar. Pihak keluarga tampak terpukul atas kepergian Dinda Amelia untuk selamanya.

Jenazah remaja 15 tahun ini dimakamkan di Pemakaman Muslim Sungai Durian, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Minggu 17 Januari 2021 sekitar pukul 08.00 WIB.

Sanak keluarga dan teman-teman pun tak kuasa menahan tangis, saat mengantarkan almarhumah ke peristirahatan terakhirnya.

Apalagi dua kakak Dinda yang terlihat terus memegangi foto sang adik, dengan air mata yang terus berjatuhan.

Baca juga: Makrufatul Yeti Srianingsih Penumpang Sriwijaya Air SJ182 Teridentifikasi, Besok Tiba di Pontianak

Dinda Amelia yang merupakan anak ketiga dari Siti Lena dan Haryanto. Sang ibunda Siti Lena juga tak berhenti menangis sejak kedatangan jenazah Dinda di rumah duka, di Jalan Sungai Durian Laut, Gang Kurnia, Kecamatan Sungai Raya.

Korban atas nama Dinda Amelia berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri setelah tubuhnya ditemukan dan diperiksa melalui DNA keluarganya.

Haryanto, ayah Dinda, tidak mengira anaknya akan meninggalkannya dalam usia masih belia.

Haryanto menceritakan bahwa anaknya itu berangkat dari Jakarta bersama istri Kepala Dinas Logistik (Kadislog) Lanud Supadio, Kolonel Teknik Akhmad Khaidir dan kedua anaknya dalam rangka seusai berlibur sejak 27 Desember 2020 lalu.

"Ceritanya diajak istri Kadislog Bapak Kolonel Akhmad liburan, dengan anak-anaknya itu. Rencananya itu mau ke Bali, cuma karena kondisi Covid-19 ini jadinya tidak jadi. Jadinya cuma jalan-jalan di Jakarta saja," kata Haryanto.

Dengan raut yang sedih, kata Haryanto, anaknya sebelum berangkat sempat menyampaikan berbagai permintaan.

"Waktu dia mau berangkat itu, mungkin ini tanda-tandanya juga sih ya. Dia itu minta dibeliin semuanya serba baru,” katanya.

“Sepatu minta baru, handphone-nya itu juga sampai minta beli baru. Sampai saya nyariin ke kawan-kawan pinjaman, karena uang masih kurang. Jadi saya beliin baru itu semuanya. Bajunya, switernya itu semua baru pas berangkat," ungkap Haryanto sambil mengenang Dinda.

Haryanto mengatakan, sang putri punya kedekatan sangat erat dengan keluarga Kolonel Akhmad. Bahkan, Dinda apabila lulus SMP, akan langsung disekolahkan di Sekolah Angkatan Udara di Jakarta.

Baca juga: Jenazah Agus Minarni Korban Sriwijaya Air SJ182, Dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Sengkubang

"Memang cita-cita dia itu habis sekolah SMP ini diajak ibu untuk sekolah di Jakarta. Biar bisa jadi Angkatan Udara. Sudah ke arah situ cita-cita dia itu. Cuma takdir berkata lain kan," lanjutnya.

Dirinya mengatakan, sosok Dinda adalah sosok anak pendiam dan sangat rajin. Sampai-sampai sosok itu membuat rasa kehilangan yang mendalam bagi keluarga besar.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved