Serangan Buaya Muara Makin Ganas, Ini Imbauan BKSDA Pada Masyarakat
Imbauan untuk pengurangan aktivitas terhadap masyarakat pada tempat atau habitat-habitat yang sering munculnya satwa buaya
Kehilangan Habitat
Dosen Managemen Sumber Daya Perairan Fakultas Peternakan dan Perikanan Univeristas Tadulako, Fadly Y. Tantu mengungkapkan konflik buaya dan manusia di kota Palu dikarenakan satwa liar itu kehilangan habitat mereka.
Habitat buaya tersebut hilang karena kegiatan pembangunan dalam lima tahun terakhir.
Pembuatan tanggul sungai untuk mencegah banjir telah membuat buaya kehilangan tempat bersarang. “Pembangunan di Palu itu sangat gencar, termasuk pembangunan dalam rangka penataan ekosistem sungai. Penataan untuk mendapatkan keindahan-keindahan dari kota."
"Pembuatan tanggul-tanggul di sekitar sungai, ini mulai terjadinya konflik-konflik itu, karena manusia mengambil habitat dari buaya itu, sehingga buaya di Teluk Palu itu kehilangan rumahnya," tukas Fadly.
Menurutnya pembangunan pemukiman dan tanggul telah menghilangkan daerah rawa-rawa, termasuk ekosistem bakau (mangrove), tempat berkembang biaknya ikan dan kepiting, yang menjadi makanan utama buaya.
Fadly menjelaskan sampai 2017, buaya memiliki sarang di wilayah muara sungai Palu, namun tempat itu telah rusak akibat tsunami di Teluk Palu pada 28 September 2018.
Pembangunan tanggul laut sepanjang 7,2 kilometer di sepanjang pesisir Teluk Palu untuk menahan banjir rob dan ombak sejak akhir 2019, membuat satwa liar itu bergerak lebih jauh, meninggalkan habitat utama mereka.
Mitigasi dengan Kegiatan Pengawasan Buaya
Sudaryanto Lamangkona, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu menilai dalam jangka pendek perlu dilakukan kegiatan pengawasan pergerakan buaya di wilayah pesisir Teluk Palu terutama untuk melindungi aktivitas nelayan di 13 kelurahan. Selain itu pesisir Teluk Palu yang memiliki garis pantai sepanjang 41 kilometer, juga memiliki banyak lokasi yang digunakan masyarakat untuk kegiatan berenang dan rekreasi.
“Sayang sekali kalau keindahan Teluk Palu itu bisa menjadi rusak, tidak lagi menjadi impian orang untuk bisa merasakan bagaimana nikmatnya berenang hanya karena terancam keselamatan mereka, ketika berenang ada buaya," katanya.
Jumlah buaya di sungai Palu diperkirakan sekitar 60 ekor, termasuk satu ekor buaya berkalung ban yang kemunculannya pada 2016 menyita perhatian luas publik.
Upaya melepaskan kalung ban melibatkan ahli menangkap buaya dalam dan luar negeri pada awal tahun ini terpaksa dihentikan karena pandemi Covid-19
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Di Palu, Buaya Muara Makin Agresif karena Kehilangan Habitat"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/korban-disambar-buaya.jpg)