Fenomena Petahana Tumbang di Pilkada Kalbar, Pengamat Politik Nilai Hal Ini Jadi Penyebab
Situasi politik berubah, koalisi dukungan politik lima tahun lalu tentu berbeda dengan sekarang, perilaku pemilih kita juga cenderung berubah
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik FISIP Untan, Dr. Jumadi, M.Si menilai tumbangnya sejumlah petahana di pilkada di tujuh Kabupaten di Kalbar karena dinamika yang terjadi di masyarakat.
Termasuk oleh arus informasi yang diera sekarang ini cepat masuk dibandingkan dengan pemilu ataupun pilkada yang lalu.
Walaupun memang, lanjut Jumadi, sebenarnya petahana mempunyai kans yang lebih besar.
"Mengenai sejumlah petahana yang tumbang di pilkada Kalbar menurut saya hal yang biasa saja, inikan sebuah kontestasi politik, walaupun secara politis inkamben lebih punya kans, karena beberapa faktor," katanya, Minggu 20 Desember 2020.
"Namunkan situasi politik berubah, koalisi dukungan politik lima tahun lalu tentu berbeda dengan sekarang, perilaku pemilih kita juga cenderung berubah, terlebih dimasa pandemi covid 19," katanya.
Baca juga: KPU Kalbar : Hasil Pilkada Akan Dipastikan Saat Pleno Rekapitulasi Secara Manual
"Selain itu juga tentu pengaruh penilaian paslon pendatang baru maupun inkamben oleh pemilih," timpal Jumadi.
Seperti diketahui, berdasarkan rekap di KPU tujuh Kabupaten, ada tiga petahana yang tumbang.
Ketiganya yakni Sambas, Atbah-Hairiah, kemudian di Sekadau, Rupinus-Aloysius dan Melawi, Panji yang sebelumnya Bupati harus kalah dari Wakil Bupatinya, Dadi Sunarya yang maju sendiri dengan figur lainnya serta terpilih menjadi Bupati.
Namun untuk Sekadau sendiri, Rupinus-Aloysius mengajukan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK). (*)