China Ternyata Selama Ini Sembunyikan Separuh Kasus dan Kematian Akibat Covid-19, Ini Buktinya
Data laporan itu menunjukkan sejumlah besar kasus flu termasuk di Wuhan tidak diketahui penyebabnya sejak 2 Desember.
Para peneliti mengatakan kepada CNN, ada kemungkinan beberapa di antaranya adalah kasus virus corona yang salah diagnosis, tetapi tidak bisa dipastikan begitu karena datanya tidak ada.
Amesh Adalja dari Universita Johns Hopkins yang berada di garis depan pelacakan virus corona mengatakan, "Mereka hanya menguji apa yang mereka ketahui."
Dokumen yang bocor tadi juga mengungkap kekacauan pengujian awal di China, yang berujung pada kasus-kasus tidak dilaporkan.
Menurut data, tes asam nukleat yang awalnya digunakan untuk mendiagnosis virus corona hanya berhasil 30-50 persen saat itu.
Artinya para ilmuwan kerap terpaksa menggunakan metode lain - seperti pemindaian paru-paru - untuk mendiagnosis pasien yang mereka yakini terkena Covid-19, tetapi hasil tesnya selalu negatif.
Namun sistem pelaporan di "Negeri Panda" hanya melaporkan kasus-kasus yang telah dikonfirmasi oleh tes ke publik, sedangkan kasus-kasus sisanya ditandai sebagai "dicurigai" atau "didiagnosis secara klinis".
Dokumen internal itu juga menunjukkan bahwa otoritas kesehatan Hubei kekurangan dana, dan bermasalah dengan motivasi staf ketika pandemi melanda.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Data Covid-19 China Bocor, Ternyata Sembunyikan Separuh Kasus dan Kematian"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/corona-ilustrasi-covid19-endro.jpg)