APLIKASI Muslim Pro Jual Data Penggunanya ke Militer Amerika ? Pihak Pengembang Beri Klarifikasi
Baru-baru ini beredar laporan yang menyebut bahwa militer AS diduga telah membeli data lokasi yang dikumpulkan dari aplikasi panduan ibadah, Muslim Pr
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Muslim Pro adalah satu di antara aplikasi yang cukup ramai diunduh di pengguna smartphone di dunia.
Baik bagi para pengguna ponsel pintar berbasih Android maupun iOs.
Muslim Pro sendiri merupakan aplikasi yang menyediakan fitur seperti pengatur waktu salat, pengingat adzan, dan Al-Qur'an dengan terjemahan.
Namun, sejumlah isu tak sedap menerpa aplikasi Muslim Pro.
Baru-baru ini beredar laporan yang menyebut bahwa militer Amerika Serikat atau militer AS diduga telah membeli data lokasi yang dikumpulkan dari aplikasi panduan ibadah, Muslim Pro.
Baca juga: WEBSITE Kemensos cekbansos.siks.kemsos.go.id & Aplikasi SIKS Dataku Pencairan BLT 300 Ribu Bulan Ini
Lantas, benarkah demikian adanya?
Terkiat hal tersebut, pihak Muslim Pro pun lantas memberikan klarifikasinya.
Menanggapi laporan tersebut, pihak pengembang aplikasi Muslim Pro akhirnya angkat bicara terkait tudingan yang disebutkan.
Dikutip dari Kompas.com, pengembang Muslim Pro mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah sekalipun menjual atau membagikan data lokasi penggunanya untuk kepentingan operasi khusus di AS.
"Privasi pengguna adalah prioritas utama Muslim Pro,"
"Sebagai salah satu aplikasi Muslim paling tepercaya selama 10 tahun terakhir, kami mematuhi standar privasi dan peraturan perlindungan data yang paling ketat,"
"Dan tidak pernah membagikan identitas pribadi apa pun," kata pihak Muslim Pro.
Baca juga: XL Axiata Gandeng Solace, Terapkan Real-time Data Flow Guna Maksimalkan Aplikasi MyXL
Pengembang aplikasi tersebut juga mengatakan tengah melakukan penyelidikan internal dan meninjau kebijakan tata kelola data untuk memastikan bahwa semua data pengguna ditangani sesuai dengan persyaratan yang ada.
Selain itu, pihak Muslim Pro juga menegaskan akan mengakhiri kerja sama dengan pihak ketiga.
Termasuk perusahaan bernama X-Mode yang disebut mengalirkan data pengguna Muslim Pro ke militer AS.