Gotong Royong Usung Model Ekonomi Lestari, Sintang Dapat Dukungan Banyak Pihak

Tahun ini merupakan kali pertama Global Landscape Forum diselenggarakan dalam format daring dan juga menjadi kesempatan pertama bagi LTKL,

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Zulkifli
TRIBUN PONTIANAK/Agus Pujianto
Gita Syahrani, Kepala Sekretariat LTKL memandu diskusi LTKL bersama CIFOR tentang pembangunan ekonomi lestari di ajang lanskap terbesar di dunia. Kabupaten Sintang, termasuk daerah yang tergabung dalam LTKL dan berkomitmen dalam ekonomi lestari. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG -- Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bersama CIFOR selenggarakan panel diskusi tentang pembangunan ekonomi lestari diajang lanskap terbesar di dunia.

Kabupaten Sintang, termasuk daerah yang tergabung dalam LTKL dan berkomitmen dalam ekonomi lestari.

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bersama Center for International Forestry Research (CIFOR) telah sukses menyelenggarakan satu panel diskusi daring yang masuk sebagai rangkaian kegiatan Global Landscape Forum 2020.

Gita Syahrani, Kepala Sekretariat LTKL mengatakan bencana alam maupun non-alam yang datang silih berganti menjadi penanda dampak krisis iklim semakin nyata dan dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa ada pengecualian.

"Kebutuhan untuk segera mereformasi kebijakan dan tata kelola lingkungan sudah tidak lagi bisa ditawar," katanya saat panel diskusi tentang pembangunan ekonomi lestari.

Baca juga: 239 CPNS Dinyatakan Lulus di Sintang, Cek Pengumumannya di Sini

Menurutnya, fokus dan prioritas seluruh pemangku kepentingan terkait pun perlu mengarah pada perumusan rekomendasi yang relevan dan mampu menyeimbangkan antara target pembangunan sektor ekonomi dan upaya perlindungan biodiversitas lingkungan.

Oleh sebab itu, LTKL bersama pemerintah kabupaten pendiri dan anggota secara konsisten berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam mencapai target dan prioritas pembangunan nasional termasuk untuk Target Pembangunan Berkelanjutan (TPB), penurunan emisi dan peningkatan investasi berkualitas di daerah.

"Dukungan tersebut tidak hanya berupa seruan, tapi juga diterjemahkan ke dalam beragam inovasi dan praktik gotong-royong yang dirancang demi menumbuhkan kemampuan daerah untuk ‘jemput bola’ investasi dan kerjasama untuk mendorong industri produk turunan basis alam yang dikelola dan bermanfaat langsung oleh masyarakatnya.

Produk turunan akan mampu menghasilkan nilai yang berkali lipat ketimbang penjualan barang mentah sehingga penggunaan lahan juga dapat disesuaikan dengan daya tampung dan daya dukung lingkungan sesuai dengan potensi masing masing daerah," beber Gita.

Global Landscape Forum 2020 merupakan forum lanskap terbesar berbasis ilmu pengetahuan yang fokus pada isu pemanfaatan lahan berkelanjutan dengan jejaring mencapai lebih dari 4.900 organisasi dan menjangkau 770 juta orang yang tersebar di 185 negara.

Tahun ini merupakan kali pertama Global Landscape Forum diselenggarakan dalam format daring dan juga menjadi kesempatan pertama bagi LTKL, terpilih untuk mengisi salah satu panel diskusi.

Sesi diskusi yang bertajuk “Pembelajaran dari Indonesia : Membangun ekonomi lestari melalui pendekatan yurisdiksi” utamanya menyoroti bahwa pembangunan ekonomi lestari bertumpu pada perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dilakukan secara gotong royong multipihak.

Dalam kesempatan ini, turut hadir sejumlah pakar dan pegiat isu pembangunan yang mewakili beragam sektor dan keilmuan.

"Sesi ini diharapkan dapat menjadi momen penting untuk mendorong lebih banyak diskusi dan inisiatif pembangunan ekonomi lestari dengan pelibatan multipihak, sekaligus memberikan ruang bagi pemerintah kabupaten dan pemangku kepentingan daerah untuk berbagi praktik dan rekomendasi dari tingkat tapak ke kelompok masyarakat global," harapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved