Jagoan Lokal

Kisah Inspiratif Bujang Kurir Tetap Eksis di Tengah Pandemi, Adek Pesan Abang Antar

Kendati demikian, seiring perkembangan waktu dan munculnya kompetitor nasional. Bujang Kurir pun menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Zulkifli
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA/ Dok pribadi @Bujang Kurir
Layanan aplikasi Bujang Kurir Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bujang Kurir (BK) merupakan layanan pesan antar
pertama di Kota Pontianak dengan personal delivery, serta memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari dengan memahami segala kebutuhan masyarakat.

Menariknya lagi, dengan mengusung kearifan lokal Bujang Kurir turut andil mengangkat potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Pontianak serta Kabupaten Kubu Raya.

Mengedepankan konsep kolaborasi dengan UMKM, industri rumahan dan partner bisnis lainnya.

Menjadikan Bujang Kurir tetap eksis hingga saat ini.

Berdiri sejak tanggal 18 Juni 2015 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1436 H.

Bujang Kurir sangat melekat dengan tagline "Adek Pesan Abang Antar".

Diawal berdirinya layanan Bujang Kurir, bisa diakses hanya melalui layanan chat pihak ke 3 yakni BBM dan WA.

Bertepatan dengan 1 tahun hadirnya Bujang Kurir, Aplikasi pun diluncurkan tepatnya pada 18 Juni 2016.

Owner Bujang Kurir, Riszky Ramadhan.
Owner Bujang Kurir, Riszky Ramadhan. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA)

Baca juga: Disporapar Kalbar Launching Paket Wisata Murah di Kota Pontianak

Owner Bujang Kurir, Riszky Ramadhan membagikan kisah perjalanan lahirnya Bujang Kurir sebagai startup lokal kebanggan budak Pontianak.

Awal munculnya Bujang Kurir diakui Lulusan Pasca Sarjana Psikologi UGM Yogyakarta ini, bermula dari kelaparan tengah malam dan sulitnya memesan makanan.

Singkat cerita, setelah Riszky menyelesaikan studi S2 dan pulang ke kampung halamannya, ide yang dulu pernah ada kemudian ia realisasikan.

Di mana saat itu tahun 2015, Riszky melihat layanan pesan antar belum ada di Kota Pontianak.

Melihat peluang bisnis pesan antar untuk rumah makan yang ada di Kota Pontianak belum tergarap, maka ia pun membuka usaha ini dengan memodifikasi layanan serupa yang telah ada di ibu kota dan yang ada di Pulau Jawa.

"Mulanya, saya bersama dua teman saya yang lain yaitu Adam dan Reza berinisiatif membuat layanan pesan antar.

Karena identik dengan Melayu, jadi di kasi namanya Bujang Kurir.

Waktu itu, karena masih pertama ya, hanya ada 3 orderan selama sebulan," jelasnya kepada Tribun Pontianak, Kamis 29 Oktober 2020.

"Lambat laun, mulai meningkat hingga bisa dikenal oleh masyarakat seperti saat ini," tambahnya.

Baca juga: PT Epson Gandeng MMC Salurkan CSR Tanam 1000 Mangrove di Mempawah

Layanan aplikasi Bujang Kurir Pontianak.
Layanan aplikasi Bujang Kurir Pontianak. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA)

Pertama kali hadir, aplikasi ini menyediakan berbagai layanan, seperti pesan antar menu-menu, pembelian barang hingga tiket bioskop.

Kendati demikian, seiring perkembangan waktu dan munculnya kompetitor nasional. Bujang Kurir pun menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Layanan yang disediakan adalah pesan antar makanan, barang, obat, dan kebutuhan sehari-hari.

"Dan konsen kami dua tahun terakhir ini adalah banyak bekerjasama dengan UMKM-UMKM, terutama industri rumahan.

Kalau ditanya, kenapa Bujang Kurir bisa bertahan hingga detik ini, di tengah gempuran kompetitor, karena adanya UMKM," tegasnya.

Aplikasi ini sendiri di develop oleh anak-anak muda Pontianak yang merupakan mahasiswa TI Universitas Tanjungpura (Untan) dibawah arahan CTO BK yang juga dosen TI UNTAN yaitu M Azhar Irwansyah, ST M Eng dan Lead Programmer Pandhe Prakarsa S Kom.

Sampai saat ini ratusan UMKM dan Industri rumahan serta beberapa partner bisnis dari pemerintah dan swasta telah bekerjasama dengan Bujang Kurir.

Aplikasi Bujang Kurir sendiri di google playstore telah diunduh lebih dari 14 ribu user download.

Dari awal berdiri, startup ini tidak mengeluarkan biaya sepeser pun, hanya bermodal media sosial dan jaringan pertemanan saja.

"Saya dulu tidak punya smartphone, dan saya dipinjamkan.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, startup ini tetap bisa eksis.

Dari dulu hingga sekarang kami terus menggencarkan kolaborasi bersama pelaku UMKM, mulai dari makanan tradisional.

Karena mereka kami bisa bertahan," ungkapnya.

Banyak hal yang telah di lalui startup ini, Riszky pun menuturkan Bujang Kurir sempat berada pada posisi down, saat kompetitor nasional hadir di Pontianak.

Sehingga dirinya mengakui kesulian dalam hal operasional.

Dibalik itu semua, Riszky sangat bersyukur memiliki tim dan karyawan yang hebat, sehingga Bujang Kurir mampu melewati masa sulit tersebut.

Pihaknya pun terus memperluas pasar dan menghadirkan berbagai inovasi guna memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Akan tetapi berbanding terbalik saat pandemi Covid-19, Bujang Kurir ternyata mampu bertahan bahkan mendapatkan keuntungan, dengan orderan meningkat 2 kali lipat.

Berkolaborasi bersama UMKM dan kearifan lokal serta inovasi, aplikasi ini mampu bersaing dalam situasi tersebut.

Selama pandemi ini, pihaknya tetap mengedepankan protokol kesehatan demi keamanan dan kenyamanan para pengguna layanan jasa ini.

Memakai masker, mencuci tangan atau hand sanitaizer dan menjaga jarak.

Untuk pengantaran makanan, Bujang Kurir menggunakan tas besar dan selalu di sterilisasi.

"Setiap karyawan, selalu kami cek suhu mereka dan kami pastikan kesehatan terjaga ketika bekerja melayani konsumen.

Serta yang terpenting, selalu mematuhi protokol kesehatan," tuturnya.

Baca juga: BLT UMKM Rp2,4 Juta Cair, Begini Syarat dan Cara Mendapatkannya ! Masih Ada Kuota 2,9 Juta UMKM

Dari total omzet Bujang Kurir selama perbulan, Riszky menyebutkan lebih kurang Rp 7-8 juta diperuntukkan untuk memenuhi keperluan operasional, gaji karyawan, pengembangan server dan kebutuhan lainnya.

Selain itu, Riszky mengatakan, awal berdirinya tak heran ia pun kerap menjadi keynote speaker pada Gerakan 1000 Startup Digital Pontianak, Tech In Asia Chapter Pontianak, Bekraf Developer Day 2019, Mentor & Pengajar untuk Pelatihan UMKM di Balai Latihan Koperasi Provinsi Kalbar, Dosen Tetap Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Pontianak.

"Saya berpesan kepada yang lain jangan takut untuk memulai suatu usaha atau bisnis.

Bahkan, dengan nol budget sekali pun bisa. Terbukti di Bujang Kurir ini, dapat saya sampaikan banyak orang hebat terlibat mendukung hingga kami bisa seperti ini," tutupnya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved