Apa Benar Olahraga Bikin Serangan Jantung?
Nah Tribuners, dr Chelwy Joycestio Vrixander dan Eric Herrianto Dwiputra SKed akan membahas, apa benar olahraga bikin serangan jantung?
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mungkin Tribuners pernah dengar ada berita artis tanah air yang meninggal setelah olahraga dan terkena serangan jantung?
Pasti muncul dong pertanyaan di dalam otak Tribuners, olahraga yang seharusnya membuat tubuh sehat dan mencegah penyakit, kok bisa menimbulkan serangan jantung?
Nah Tribuners, dr Chelwy Joycestio Vrixander dan Eric Herrianto Dwiputra SKed akan membahas, apa benar olahraga bikin serangan jantung?
Lalu, harus bagaimana dong, apakah ada olahraga yang harus dihindari, atau justru tidak boleh olahraga lagi sama sekali?
Yuk kita kupas perlahan-lahan (tapi dalam) mengenai fakta bahwa olahraga dapat menyebabkan serangan jantung.
Mungkin sudah bukan rahasia lagi bahwa olahraga banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan, seperti peningkatan kualitas profil lemak darah, menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung, mengurangi risiko terkena penyakit diabetes mellitus, hipertensi, kanker, osteoporosis, dan lain-lain.
Selain itu, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan “kesejahteraan” psikologis yaitu mengurangi stres, kecemasan dan depresi.
Tidak hanya mencegah penyakit, olahraga juga pastinya meningkatkan fungsi dan massa otot dan tulang, menurunkan berat badan, serta membantu sobat untuk memiliki kualitas tidur yang lebih baik loh sob.
Tapi ternyata, aktivitas fisik tidak hanya menguntungkan orang-orang yang sebelumnya sehat loh ya, tetapi juga untuk penderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung, meningkatkan kontrol glikemik (gula) pada diabetes, mengurangi kematian akibat kanker, dan lain-lain.
Benar loh Tribuners, manfaat olahraga benaran sebanyak itu kok.
Tapi, kok ada sih ya berita orang sehat yang sering olahraga bisa terkena serangan jantung?
Nah ini inti pembahasan kita dari artikel ini ya Tribuners. Ternyata dari berbagai penelitian, ditemukan nih, pada orang-orang yang terlibat dalam olahraga berat dan terus-menerus (tipe endurance), terdapat peningkatan penumpukan plak kalsium pada pembuluh darah koroner.
Nah plak kalsium ini yang disinyalir dapat menyebabkan blokade pada pembuluh darah koroner dan akhirnya menyebabkan serangan jantung dan henti jantung.
Meskipun begitu, tingkat kalsifikasi arteri koroner ini pun masih menjadi perdebatan apakah berhubungan langsung dengan kematian akibat serangan jantung atau tidak.
Sebelumnya, pada atlet-atlet muda berusia <30 atau <40 tahun, temuan penyebab serangan jantung/henti jantung akibat olahraga yang paling sering adalah adanya abnormalitas jantung dan pembuluh darah yang diturunkan atau kongenital.
Sedangkan pada orang yang lebih tua adalah penyakit jantung koroner. Risikonya ternyata juga berbeda loh Tribuners antara orang yang memang terbiasa berolahraga dengan yang sebelumnya jarang olahraga.
Serangan jantung maupun henti jantung paling sering ditemukan pada orang yang sebelumnya jarang bergerak.
Risiko henti jantung, pada orang-orang sedentary (jarang beraktivitas fisik) 56x lebih tinggi selama olahraga, dibandingkan pada orang-orang yang memang terbiasa berolahraga berat.
Aktivitas fisik berat, dapat menyebabkan serangan jantung selama waktu 1 jam. Meskipun begitu, sobat tidak perlu khawatir, karena risiko terkena serangan jantung saat berolahraga tentunya jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan jangka panjangnya, yaitu hidup lebih lama dan sehat.
Hal positif lainnya juga ternyata 46% penderita henti jantung yang disebabkan oleh olahraga selamat, dibandingkan henti jantung yang tidak disebabkan oleh olahraga hanya 17% yang berhasil selamat.
Olahraga berat, bagaimanapun juga tetap dapat meningkatkan risiko serangan jantung maupun henti jantung, meskipun pada orang yang terbiasa berolahraga.
Oleh karena itu, ada beberapa strategi untuk mengurangi risiko itu:
1. Individu yang aktif berolahraga harus mengenali gejala-gejala awal dari serangan jantung dan sesegera mungkin mencari pertolongan medis bila muncul gejala tersebut.
Seseorang juga harus menyesuaikan program olahraganya tergantung kemampuan/kapasitasnya dan kondisi lingkungan.
2. Atlet-atlet harus menjalani screening sebelum berpartisipasi. Atlet yang memiliki kelainan harus dievaluasi apakah layak atau tidaknya ikut berpartisipasi.
3. Staf di tempat olahraga harus terlatih dalam mengatasi kegawatdaruratan jantung, serta memiliki peralatan resusitasi yang sesuai.
Kalau begitu apakah lebih baik tidak usah berolahraga saja lah?
Tidak seperti itu Tribuners! Terlepas dari ada tidaknya risiko terkena serangan jantung maupun henti jantung pada masing-masing individu, kita harus tetap berolahraga loh ya Tribuners. Kembali lagi, risikonya sangat kecil kok asalkan olahraga dilakukan dengan baik dan benar.
Olahraganya berapa lama ya rekomendasinya?
Kita direkomendasikan untuk berolahraga intensitas sedang minimal 30 menit sehari,11 atau 150 menit perminggu, atau 75 menit perminggu bila ingin melakukan olahraga dengan intensitas yang lebih berat seperti jogging.
Nah, kira-kira sudah terjawab belum Tribuners, kok bisa ya terjadi serangan jantung pada orang yang berolahraga?
Intinya, kita tetap harus mempertimbangkan risiko dan keuntungan Tribuners, dan memang keuntungan jangka panjangnya jauh melebihi risikonya yang sangat kecil.
Semoga dengan membaca artikel ini, Tribuners yang malas berolahraga mulai dapat lebih aktif, serta yang sudah sering berolahraga tidak takut kena serangan jantung ya Tribuners.
Sekian artikel kali ini, semoga membantu. Terimakasih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/bebincang-kesehatan.jpg)