Stephanie, Petinju Belia Ini Akui Banyak Dapat Dukungan dari Keluarga

Ia memulai olahraga tinju ini saat masih diumur 14 tahun, dan ia berhasil memenangkan medali perak dipertandingan pertamanya setelah setahun latihan.

TRIBUNPONTIANAK/RIZKI FADRIANI
Triponcast edisi Bebincang Olahraga yang menghadirkan Atlet Tinju Putri, Stephanie dan Pelatih, Ridho di Studio Triponcast, Selasa (1/9/2020). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Mendengar sebutan atlet tinju adalah hal biasa bagi kita, tapi menjadi luar biasa ketika atlet tinju tersebut adalah seorang perempuan belia yang masih duduk di bangku SMA, ia adalah Stephanie.

Dalam Triponcast (Tribun Pontianak Official Podcast) edisi Bebincang Olahraga, Stephanie yang didampingi oleh Pelatih, yakni Ridho, membagikan kisahnya menjadi atlet tinju putri Kalbar.

Ia memulai olahraga tinju ini saat masih diumur 14 tahun, dan ia berhasil memenangkan medali perak dipertandingan pertamanya setelah setahun latihan.

Menurutnya, mengikuti turnamen atau pertandingan tinju membuatnya merasa senang dan dapat menambah pengalamannya di atas ring. Dan bagian menariknya adalah teriakan para suporter ketika ia berdiri di atas ring, dapat menjadi support system yang sangat membantu.

"Yang paling seru, saat bagian istirahat di atas ring, karena mendengar teriakan dukungan yang dapat menyemangati," ungkapnya, Selasa (1/9/2020).

Betukang.id Rekrut Tenaga Handal dan Profesional

Fani sapaan akrabnya, mengakui jika ia lebih senang untuk menceritakan pengalamannya menjadi atlet tinju kepada keluarga, karena baginya keluarga banyak memberikan dukungan.

Sebelum ia serius menjadi atlet, ibunya sempat menyangka jika Fani hanya main-main saja, namun seiring berjalannya waktu dan sang ibu mengenal pelatih, kini orangtuanya telah percaya dan memberikan dukungan.

Ia menceritakan jika pernah terkena pukulan yang mengakibatkan bengkak di kelopak matanya. Namun, sekeras apapun pertandingan tinju, setiap pukulannya memiliki dasar dan tidak sembarangan.

"Waktu tanding kemarin sempat bengkak di kelopak mata. Besoknya langsung biru," ungkapnya mengenang sisa pertandingannya.

Ketika pukulan lawan masuk, itu dapat membuatnya bersemangat untuk mencetak angka. Dan baginya, tidak boleh ada dendam dengan sesama atlet meskipun pukulan yang diberikan dapat meneteskan darah sekalipun.

"Tidak boleh ada dendam dengan sesama atlet," jelasnya dengan yakin.

Sejauh ini, keinginan terbesarnya adalah menaklukkan pertandingan di Makassar, serta ia berpesan kepada para atlet maupun calon atlet untuk memiliki keinginan yang kuat akan apa yang diinginkan, dan memiliki niatan yang teguh, agar keinginan dapat tercapai.

"Harus ada rasa ingin dan niat menjadi atlet, itu adalah yang harus diutamakan. Dan jangan sekadar liat orang lalu ikut-ikutan," tutupnya dalam Triponcast.

Pelatih Tinju, yakni Ridho menceritakan persiapan yang dilakukan untuk menuju pertandingan nasional adalah latihan dengan keras dan disiplin.

Baginya wajar jika diawal ada rasa tidak tega untuk meninju lawan, namun karena telah ada di atas ring dan semua pukulan ada dasarnya, maka pertandingan dapat dijalankan dengan baik dan adil.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved