Breaking News:

Bersahabat dengan Alam

Atas nama investasi, kita dengan mudah memberikan izin untuk pertambangan, pembukaan lahan perkebunan skala besar dan monokultur.

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Syukur Saleh
BERTEDUH: Sejumlah warga Kayan Hilir yang terdampak banjir bertahan di lanting dengan membuat atap terpal darurat. Banjir yang melanda Kecamatan Kayan Hulu saat ini sudah mulai surut, Selasa (14/7/2020). 

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kawasan di Kalbar tergenang banjir. Kabupaten yang terendam banjir antara lain Kabupaten Melawi, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu. Sejumlah warga bahkan sudah mulai ada yang mengungsi karena rumah mereka terendam. Selain itu, warga tak bisa bekerja sebagai mana mesti nya karena lapangan pekerjaan juga ikut terdampak banjir.

Di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, misalnya sebanyak 59 unit rumah rusak akibat diterjang banjir. Selain rumah, jembatan gantung di Desa Lintang Tambuk juga rusak parah akibat diterjang banjir. Ada 19 desa yang terdampak, terdapat 59 rumah warga yang mengalami kerusakan dan dua fasilitas umum rusak parah.

BAGIKAN - Polres Melawi dan Polwan Polres Melawi, berenang basah-basahan menjangkau perumahan masyarakat yang terdampak banjir. Secara door to door Polres Melawi membagikan nasi kotak yang telah dimasak di dapur umum Polres Melawi.
BAGIKAN - Polres Melawi dan Polwan Polres Melawi, berenang basah-basahan menjangkau perumahan masyarakat yang terdampak banjir. Secara door to door Polres Melawi membagikan nasi kotak yang telah dimasak di dapur umum Polres Melawi. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA)

Selain Kayan Hulu, banjir juga merendam rumah warga di Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hilir. Jalan poros dari Sintang menuju Kayan Hilir dan Kayan Hulu lumpuh total. Tak ada kendaraan yang bisa melintas. Titik banjir paling parah menggenangi sepanjang ruas jalan Dusun Mabang, Desa Mekar Mandiri. Tinggi permukaan air melebihi batas pinggang orang dewasa. Tak ada kendaraan satu pun yang bisa melintas. Hanya bisa menggunakan rakit yang didorong warga. Untuk bisa menjangkau pusat kecamatan, warga terpaksa menggunakan perahu.

Pusat kecamatan Kayan Hilir juga masih terendam. Sejumlah logistik baik bantuan dari para relawan, maupun dari logistik obat-obatan dari Diskes untuk sementara hanya mampu menjangkau posko bencana banjir yang didirikan Korem 121/Abw di Desa Jaya Sakti. Pantauan Tribun di lokasi titik panjir, hingga kemarin sore masih bertahan.
Banjir juga masih merendam beberapa kecamatan di Kabupaten Melawi. Sebagian warga terdampak masih bertahan di rumahnya masing-masing. Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di Kecamatan Sayan, beberapa waktu lalu.

PUTUS: Jembatan Lintang Tambuk terputus akibat diterjang banjir beberapa waktu lalu.
PUTUS: Jembatan Lintang Tambuk terputus akibat diterjang banjir beberapa waktu lalu. (TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Syukur Saleh)

Di tengah situasi banjir tersebut, para polisi wanita (Polwan) Polres Melawi menyalurkan bantuan berupa nasi kotak, sembako, hingga mi instan. Para Polwan ini terjun langsung ke dalam genangan banjir, berenang, dan menyambangi satu persatu warga terdampak banjir untuk memberikan bantuan meski hampir seluruh badannya basah terendam air.

Bencana banjir agik hujan yang turun terus menerus serta deras menjadi persoalan di sejumlah daerah terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.
Terkait banjir yang melanda sejumlah kawasan, para pejabat di daerah pun sudah turun ke lokasi untuk meninjau serta menyerahkan bantuan. Apa;agi dampak banjir kali ini cukup besar. Di Kabupaten Sintang saja, tercatat ada 4.000 KK yang terdampak. Bencana banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Sintang terdampak pada 8.113 rumah. Sebanyak 59 rumah dilaporkan rusak akibat banjir.

Gubernur Kalbar Sutarmidji bergerak cepat mendistribusikan 32 ton beras untuk korban banjir di Kabupaten Sintang dan Melawi. Bantuan diserahkan melalui tiga OPD yakni BPBD, Dinas Sosial dan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar.

Kita tentu saja berterima kasih kepada pemerintah yang memberikan bantuan kepada warga di kala mengalami bencana seperti ini. Namun, yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah pasca banjir. Biasanya muncul sejumlah penyakit dan dampak ikutan lainnya seperti tanaman yang puso sehingga berdampak ekonomi bagi warga.

Selain itu yang perlu menjadi catatan kita adalah mencari akal permasalahan mengapa sampai banjir. Tak bisa dipungkiri satu di antara penyebabnya adalah persoalan alam. Kita yang tak lagi bersahabat dengan alam, atas nama investasi dan peningkatan ekonomi menyebabkan kita serampangan saat mengeruk kekayaan alam.

Atas nama investasi, kita dengan mudah memberikan izin untuk pertambangan, pembukaan lahan perkebunan skala besar dan monokultur. Jika pada akhirnya alam mengingatkan kita, maka sudah saatnya kita sadar dan mulai hidup berdamai dengan alam. Semoga pemerintah serta para pengusaha punya hati nurani untuk tak selalu mengedepankan dan mengatasnamakan investasi dan ekonomi. Semoga. *

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved