Meski Harga Daging Ayam Naik, Peternak Akui Belum Tutupi Kerugian Saat Pandemi
Terus terang kami tidak menyangka, karena harusnya pada Ramadan dan Lebaran kita panen. Dan disitulah harapan peternak. Ternyata tahun ini berbeda
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Harga ayam potong di Kalimantan Barat yang melambung memang dinikmati para peternak.
Kendati demikian, keuntungan ini belum mampu menutupi kerugian yang diderita pada beberapa bulan belakangan sejak pandemi Covid-19 melanda.
• PENDAFTARAN PPDB DKI Jakarta Jalur Zonasi Siswa SD, SMP dan SMA, Akses Link ppdb.jakarta.go.id
• Pengurus Formi Kalbar Resmi Dikukuhkan, Pertama Kali Dilakukan Secara Virtual
• Pencairan Gaji 13 ASN Terhambat Fokus Pemerintah Tangani Covid-19, Ini Penjelasan Terbaru Kemenkeu
Di pasaran Pontianak saja, harga ayam potong kini tembus di atas Rp 40.000 per kilogramnya. Sedangkan di daerah, harganya bisa jauh di atas itu.
Seorang peternak asal Kubu Raya, Gusnadi (34) mengatakan saat ini para peternak menjual ayam tangkap kepada agen dengan harga Rp 32.000 per Kg.
Namun pada dua bulan terakhir, para peternak rugi besar. Setiap kilogram ayam dari kandangnya hanya dihargai Rp14.000 saja.
“Terus terang kami tidak menyangka, karena harusnya pada Ramadan dan Lebaran kita panen. Dan disitulah harapan peternak. Ternyata tahun ini berbeda karena ada Covid-19. Kenaikan harga yang sekarang tentu kami syukuri. Walaupun belum mampu menutupi kerugian kami selama dua bulan lebih,” ujar Agun.
Menurut dia, kenaikan harga ayam saat ini lantaran permintaan di pasaran sudah mulai stabil. Lantarannya sektor hotel, restoran, rumah makan dan lainnya sudah buka.
Sementara, ayam dari luar Kalbar dilarang masuk, sehingga hanya mengandalkan stok dari dalam provinsi ini.
“Ayam dari luar saya dengar masih tidak boleh masuk. Sedangkan stok Kalbar masih kurang. Mungkin ini yang membuat harga naik. Kalau peternak seperti saya hanya mengikuti harga pasaran saja,” jelasnya.
Dia berharap, harga ayam tidak seharusnya berfluktuasi karena akan membingungkan peternak.
“Harusnya ada kepastian harga, supaya peternak enak. Kalau naik turun seperti sekarang kita juga sulit. Karena kita juga hitung-hitungan biaya produksi untuk pakan, vitamin dan lainnya. Selain tentu biaya kehidupan sehari-hari,” sampainya.
• LINK Live Streaming Mola TV Liverpool Vs Crystal Palace Liga Inggris Malam Ini
• Kepala SMPN 28 Pontianak Komitmen akan Laksanakan PPDB dengan Objektif dan Transparan
• Wabup Sebut akan Segera Terbitkan Perda Larangan Bermain Layangan di Ketapang
Sebelumnya Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, M Munsif mengatakan gejolak harga saat ini lantaran adanya rasionalisasi jumlah ternakkan oleh para peternak.
Para peternak diketahui rugi karena stoknya terlalu banyak, sedangkan kebutuhan pasar jauh berkurang, lantaran dampak ekonomi pandemi Covid-19 pada beberapa bulan belakangan ini.
“Turunnya harga ayam sebelumnya membuat peternak lebih sedikit memproduksi. Hal itu karena jika tetap diproduksi maksimal namun di sisi pasar harga rendah maka peternak akan rugi,” pungkasnya. (*)