Hadapi Covid-19, Gapki Kalbar Pastikan Tak Ada Pengurangan Pekerja dan Jam Kerja di Pabrik TBS

Menurutnya sampai saat ini tidak ada pengurangan tenaga kerja dan jam kerja, baik di kebun maupun untuk kegiatan operasional di pabrik pengolahan TBS.

Tayang:
Editor: Nina Soraya
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Panen sawit di Dusun Sekura, Desa Semerangkai, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Kamis (2/4/2020). Gapki Kalbar memastikan di tengah pandemi Covid-19 kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat secara umum masih berjalan normal. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Badai pandemi Covid-19 yang menerjang semua sektor juga terasa di industri kelapa sawit.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Kalbar, Purwati Munawir, menjelaskan di tengah pandemi Covid-19 yang telah berjalan lebih dari dua bulan, kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat secara umum masih berjalan normal.

Kawasan Wisata Waterfront City Kota Pontianak Masih Sepi Pengunjung

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalbar Minta Pemkot Singkawang Serius Menuju WBK

Erwin Ajak Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

“Hanya saja dengan tetap mengikuti protokol pencegahan Covid-19 secara disiplin,” ujarnya dalam press rilis kepada tribunpontianak.co.id, Rabu (10/6/2020).

Menurutnya sampai saat ini tidak ada pengurangan tenaga kerja dan jam kerja, baik di kebun maupun untuk kegiatan operasional di pabrik pengolahan TBS.

Secara nasional gambaran produksi CPO bulan April 2020 naik 12,6 % dibandingkan produksi bulan Maret 2020.

Sedangkan konsumsi dalam negeri turun 6,6 %, ekspor turun 2,8 % dan harga CPO turun dari rata-rata USD 636 pada bulan Maret menjadi USD 516 per ton Cif Rotterdam pada bulan April.

Demikian pula nilai ekspor turun 10 % dari USD 1,82 miliar menjadi USD 1,64 miliar. Rendahnya produksi dibandingkan bulan yang sama tahun 2019 merupakan efek bawaan dari kemarau panjang tahun lalu.

“Namun demikian kenaikan produksi pada bulan April 2020 diharapkan sebagai titik awal kenaikan produksi periode 2020,” jelasnya.

Serapan pasar untuk konsumsi dalam negeri pada bulan April dibandingkan bulan Maret turun 98 ribu ton disebabkan turunnya konsumsi biodiesel sebagai dampak melambannya mobilitas masyarakat dengan adanya kebijakan lockdown/PSBB.

Di sisi lain konsumsi oleokimia berbasis CPO naik 11 ribu ton dikarenakan meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun.

“Kenaikan pemakaian oleokimia diperkirakan masih tetap bertahan meskipun adanya pelonggaran kebijakan PSBB sepanjang protokol Covid-19 tetap diterapkan secara disiplin,” ujarnya.

Gambaran ekspor sawit pada bulan April dibandingkan dengan bulan Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 77 ribu ton terdiri dari 44 ribu ton dalam bentuk refined palm oil dan 33 ribu ton dalam bentuk CPO.

Berdasarkan tujuan negara ekspor, penurunan yang signifikan ke negara tujuan Bangladesh; Afrika dan Timur Tengah hal ini diperkirakan masih cukup tersedianya stok di tiga negara tersebut akibat cukup tingginya ekspor yang terjadi pada bulan
Maret 2020.

Sebaliknya tujuan ekspor ke Pakistan mengalami kenaikan 100 % menjadi 201 ribu ton disebabkan serapan ekspor yang sangat rendah pada bulan Maret 2020.

Ekspor tujuan China mengalami kenaikan 37 % menjadi 417 ribu ton meskipun angka tersebut masih jauh lebih rendah jika dibandingkan ekspor ke China pada periode April 2019 ( 730 ribu ton ), sedangkan ekspor ke India dan EU menunjukan
sedikit kenaikan.

Tren yang positif ini diperkirakan akan berjalan terus dengan semakin meredanya pandemi Covid-19.

Sejalan dengan gambaran sawit secara nasional dan global, maka kondisi produksi maupun harga CPO/TBS di Kalimantan Barat juga mengalami fluktuasi dimana produksi sawit pada bulan Januari – April 2020 tercatat 694.120 ton.

Elektabilitas Moncer, Bagaimana Peluang Ganjar Pranowo Penerus Presiden Jokowi via PDI Perjuangan?

Token Pulsa Listrik Gratis Juni 2020 Masih Bisa Diklaim via www.pln.co.id atau Chat WA 08122-123-123

Jasad Alip Bocah Lima Tahun Korban Perahu Tenggelam di Sungai Pinoh Melawi Ditemukan Tim Sar

Sedangkan harga TBS periode (I) bulan Mei Rp 1.503/kg , turun dibandingkan dengan bulan Januari ( sebelum wabah covid-19 ) Rp 1.975/kg.

Walaupun jika dibandingkan pada periode Mei 2019 yaitu Rp 1.239/kg harga TBS Mei periode (1) 2020 relatif lebih baik, demikian juga harga CPO per Mei 2019 Rp 6.293/kg dibandingkan harga CPO pada bulan Mei 2020 sebesar Rp 7.062/kg

Namun harga CPO per bulan Mei 2020 tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan harga CPO bulan Januari 2020 ( sebelum wabah Covid-19 ) yaitu sebesar Rp 9.042,31/kg.

Diharapkan kebijakan new normal yang akan ditetapkan pemerintah daerah Kalbar akan diikuti mulai bergeraknya perekonomian sampai tingkat pedesaan.

“Semakin normalnya mobilisasi angkutan hasil produksi dari kebun ke pasar domestik maupun internasional dengan demikian harga TBS maupun CPO berpeluang untuk mancapai titik yang lebih menguntungkan,” sebutnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved