Virus Corona Masuk Kalbar
Kunker ke Perbatasan, Bupati Jarot Beri Pemahaman Warga Soal Rapid Test
Menurut Jarot, apabila orang yang sudah dinyatakan terpapar corona, diisolasi dan diobati pada hari ke-12 tidak menularkan lagi.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Bupati Sintang, Jarot Winarno memimpin kunjungan kerja (Kunker) tim gugus tugas covid-19 Kabupaten Sintang ke wilayah perbatasan.
Kunker ke dua kecamatan tersebut dalam rangka memberikan arahan upaya percepatan pencegahan dan penanganan Covid-19, sekaligus sosialisasi menuju new normal.
Pada kesempatan itu, Jarot memberikan arahan atau pemahaman terkait covid-19 kepada kepala desa, BPD, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat yang nantinya bisa disampaikan kepada masyarakat agar dalam menyikapi informasi terkait covid-19 agar tidak terlalu panik.
Terlebih jika mendegar ada warga yang berdasarkan rapid test itu hasilnya reaktif sehingga sering munculnya stigma negatif di tengah-tengah masyarakat.
• Tangkal Covid-19, Satpolair Polres Bengkayang Lakukan Imbauan Maklumat Kapolri di KM Karya Lemukutan
"Rapit test itu dilakukan apabila warga tersebut diduga ada kontak dengan orang yang sudah terpapar covid-19."
"Jadi rapit test pun bukan juga untuk menentukan apakah warga tersebut terpapaar covid-19 atau tidak," beber Jarot.
Jarot menjabarkan, rapid test digunakan untuk mendeteksi antibody seseorang.
Analoginya, antibody merupakan polisi, sementara virus corona ibarat penjahat yang masuk ke tubuh.
"Jadi kalau ada kuman masuk dalam badan kita, otomatis tubuh kita membuat antibody."
"Nah kalau mau menentukan mau tau orang tersebut terpapar corona atau belum harus diambil swab tenggorkan yang kita kirim ke jakarata atau pontianak melalui PCR,” jelasnya.
Sembari menunggu hasil swab tenggorokan tersebut, orang yang berdasarkan rapid test hasilnya reaktif dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari, bahkan bisa lebih.
Karena menunggu hasil swab tenggokokan itu biasanya cukup lama sampai tiga minggu.
“Kenapa harus 14 hariz karena kalau orang dalam badannya masuk kuman corana, mau tau dia timbul penyakit atau nda kita tunggu dua minggu."
"Kalau dua minggu penyakitnya nda ada udah sembuh dia, apalagi kalau swab tenggorkan hasilnya negatif bisa pulang," kata Jarot.
Menurut Jarot, apabila orang yang sudah dinyatakan terpapar corona, diisolasi dan diobati pada hari ke-12 tidak menularkan lagi.
"Jadi tidak perlu juga takut dengan corona, karena kalau ada yang terpapar cepat diambil tindakan melalui isolasi dan perawatan pengobatan."
"Kalau ada warga kita yang kena corona, sudah diobati kalau dia pulang, jangan lalu di usir-usir."
"Apalagi kalau ada yang rapid test reaktif, udah macam-macam di stigma tu, itu yang perlu saya sampaikan agar masyarakat nda terlalu takut,” jelasnya.
Tim gugus tugas Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah dinilai Jarot sudah cukup bagus, karena masyarakat secara ketat menjaga desa atau kampungnya masing-masing.
Ia pun meminta jika ada Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang dari Malaysia melalui perbatasan Ketungau Hulu, tim gugus tugas setempat segera membawanya ke sintang untuk di lakukan penanganan sesuai protokol kesehatan covid-19.
“Saya sudah standby kan mobil satu di sini untuk gugus tugas kecamatan, tibanya di Sintang nanti, karena dia dari daerah yang sudah ada corona, kita rapid test kalau hasilnya reaktif kita langsung isolasi di Sintang, kalau hasilnya non reaktif kita pulangkan ke tempat asalnya," tukasnya. (*)
Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838
Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianaka