Idul Fitri 2020

Ramadan 2020 Bukanlah Ramadan Kelabu, Refleksi Idulfitri di Tengah Covid-19

Wabah Covid-19 menyebabkan sebagian daerah tidak bisa menyelenggarakan salat tarawih berjemaah dan tadarus di masjid termasuk di Kubu Raya, Provinsi K

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ANESH VIDUKA
Pj Gubernur Kalimantan Barat, Dodi Riyadmadji bersama Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono serta sejumlah jemaah Salat Idul Adha 1439H di kawasan Alun-alun Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (22/8/2018). Usai salat kemudian dilakukan penyerahan hewan kurban sapi dari Presiden RI, Joko Widodo yang diserahkan oleh Pj Gubernur Kalbar, Dodi Riyadmadji kepada Wali Kota Pontianak, Sutarmidji yang selanjutnya akan diserahkan kepada pihak pengurus Masjid Jami Pontianak. TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Ramadan tahun ini, bukanlah ramadan kelabu.

Wabah Covid-19 menyebabkan sebagian daerah tidak bisa menyelenggarakan salat tarawih berjemaah dan tadarus di masjid termasuk di Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat secara khusus.

Namun semua itu sama sekali tak mengurangi keagungan ramadan.

Umat muslim bisa merayakan salat di rumah.

Sesuai dengan imbauan pemerintah, protokol kesehatan, dan MUI.

Ramadan membersihkan noda dosa di dalam hati.

Telah tiba saat untuk meraih rahmat dan ampunannya selama 30 hari puasa.

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Salat Id di Istana Kepresidenan Bogor Gunakan Masker

Bertepatan dengan Covid-19 makna hari raya ldulfitri bagi umat muslim adalah sebuah refleksi iman atas hari kemenangan bersama-sama.

“Bangkit bersatu sesama umat dan satu bangsa melawan Covid-19 dalam keberagaman dan toleransi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara khususnya di Kabupaten Kubu Raya,” kata Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sungai Raya, Sanctus Albertus Magnus periode 2019-2020, Laurensius melalui tulisan yang diterima tribunpontianak.co.id, Minggu (24/5/2020).

Idulfitri kata Laurensius adalah puncak dari puasa dan merupakan sukacita mendalam karna telah melewati hari-hari penuh cobaan.

Berbicara tentang sukacita yang lebih utama adalah tentang sukacita hati.

Bersyukur dan saling memaafkan adalah akar sekalian buah dari sukacita hati.

Semua itu perlu perenungan mendalam sebelum bertindak.

Karna tindakan yang tidak sesuai dengan kata hati sama seperti raga tanpa jiwa.

Oleh karena itu ditahun ini dalam situasi pandemi Covid-19, bagi umat muslim yang merayakan Idulfitri bahkan secara umum semua diajak untuk merefleksikan dan sadar akan sukacita yang sebenarnya.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sungai Raya, Sanctus Albertus Magnus periode 2019-2020, Laurensius.
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sungai Raya, Sanctus Albertus Magnus periode 2019-2020, Laurensius. (TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA)
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved