Ramadhan 2020

MUTIARA RAMADHAN - Asah Solidaritas Kemanusiaan

Persiapan menyambut bulan Ramadan dilakukan dengan beragam cara dan tradisi setiap tahunnya.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Dr Dahlia Haliah Ma'u S Ag MHI 

Dr Dahlia Haliah Ma'u S Ag MHI
Dosen IAIN Pontianak

Setiap umat Islam pasti merindukan datangnya bulan penuh hikmah. Persiapan menyambut bulan Ramadan dilakukan dengan beragam cara dan tradisi setiap tahunnya.

Ada yang mengawali rutinitas tahunannya dengan ziarah ke makam keluarga, ziarah ke makam para wali, ada juga yang mengunjungi sanak keluarga, membersihkan rumah dan lingkungannya, gotong-royong membersihkan masjid, musholla, surau, sampai pada tradisi mudik bagi para pekerja yang bekerja di luar daerah tempat tinggalnya.

Tradisi di atas, berbeda dengan Ramadan di tahun ini (1441 H /2020 M), di saat penghuni bumi di uji dengan Pandemi virus covid 19 (virus corona) yang menakutkan bahkan mematikan dengan kehendak-Nya.

Semua warga (penduduk) di belahan bumi manapun harus tetap tinggal di rumahnya, dengan beraktivitas dan beribadah di rumah saja, demikian himbauan pemimpin setiap negara.

Bagi sebagian warga, himbauan ini adalah hal yang biasa, tapi bagi sejumlah warga lainnya, hal ini adalah luar biasa, yang dapat mengunci ruang geraknya untuk mengais rezeki di luar rumah.

Sebagai umat yang percaya dengan kekuasaan-Nya, terdapat sejumlah doktrin agama yang harus dijadikan acuan menghadapi virus corona, diantaranya kesabaran dan solidaritas antar sesama manusia.

Esensi ibadah di bulan penuh hikmah ini, adalah pengokohan kesabaran (wa shabiru wa rabithu, QS. Ali-Imran: 200) Kesabaran untuk tidak menikmati hidangan dan apapun yang halal baginya, kesabaran menanti bantuan pemerintah, kesabaran melaksanakan amanah (apapun profesinya), kesabaran tidak mudik ke daerah asalnya, kesabaran tidak melaksanakan sholat jum’at berjamaah di masjid, kesabaran tidak melaksanakan tarawih dan witir berjamaah di masjid maupun musholla, sampai pada kesabaran tidak bekerja di luar rumah.

Semua aktivitas yang biasanya dilaksanakan di luar rumah harus “di tahan” demi kemaslahatan (kebaikan) bersama. Dapat dikatakan bahwa disiplin dalam memperkuat kesabaran dapat menentukan keadaan bangsa di hari-hari mendatang sampai virus corona punah.

Esensi lain di bulan yang penuh makna ini adalah mengasah solidaritas antar sesama. Islam memberikan tuntunannya bahwa dalam kondisi apapun, umat Islam diperintahkan untuk peduli dengan sesama.

Kepedulian ini, dapat berupa pemberian zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, bahkan dapat berupa bantuan tenaga jika tidak memiliki harta.

Beragam bentuk pemberian kepada sesama tersebut harus disesuaikan dengan aturan agama. Akan tetapi, pada situasi sulit karena virus corona, maka dapat dilakukan penyesuaian untuk kemaslahatan bersama.

Peduli kepada sesama, tidak mengenal siapapun dia, apapun agamanya. Dengan prinsip keselamatan diri adalah keselamatan saudara sesamanya, maka akan terwujud kejayaan dan kekuatan bangsa.

Semoga kita semua dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas amal di bulan penuh hikmah ini, dan akan berkelanjutan di bulan-bulan lainnya. Dan semoga virus corona segera diangkat (dipunahkan) oleh Yang Maha Mulia (Allah Swt). Aamiin.

Editor: Iin Sholihin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved