NGERI !, Anak SMA Ternyata Paling Banyak Kena Virus Corona Covid-19 | Terpapar, Tapi Seperti 'Sehat'
Karena tidak menunjukkan gejala, anak-anak usia SMA itu berpotensi menjadi perantara (carrier) penularan Covid-19.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kabar tak menggembirakan di tengah pandemi virus Corona Covid-19 menerpa kalangan usai remaja di Tanah Air.
Para pelajar Sekolah Menengah Atas atau anak SMA, disebut menjadi kelompok usia yang paling banyak terpapar virus mematikan Coronavirus SARS-CoV-2 yang diketahui asal Wuhan China ini.
Lebih mengerikannya lagi, banyak di antara pelajar SMA ini yang terpapar virus Corona namun tampak seperti orang yang sehat alias tanpa gejala.
Sehingga menjadikannya berpeluang besar sebagai pembawa virus alias carrier.
• Youtuber Cantik Ini Remehkan Corona, Tak Pakai Masker Jika Keluar Rumah
Dan berpotensi besar menularkan ke orang-orang lain, termasuk di kelompok usai berbeda.
Hal ini sebagaimana dikutip dari Kompas.com, yang merangkum pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Anies Baswedan mengungkapkan bahwa pelajar usia SMA dan mahasiswa paling banyak terpapar Covid-19.
Namun, sebagian dari mereka yang terpapar tidak menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19 alias sehat.
"Mereka pergaulannya luas, intensif, dan dari statistiknya menunjukkan mereka yang paling banyak terpapar, dan sebagian dari mereka terpapar sehat walafiat," ujar Anies dalam video rapat pimpinan pembukaan sekolah yang diunggah di akun YouTube Pemprov DKI, Kamis (14/5/2020), sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
• Update Corona Indonesia - Delapan Provinsi 0 Penambahan Kasus Per Kamis 14 Mei 2020, Termasuk Kalbar
Karena tidak menunjukkan gejala, anak-anak usia SMA itu berpotensi menjadi perantara (carrier) penularan Covid-19.
Kondisi ini, kata Anies, berbeda dengan pasien yang menunjukkan gejala sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Kalau terpapar, sakit, kan jelas dia tidak menularkan ke siapa-siapa, wong dia di rumah sakit,"
"Tapi terpapar dan sehat, that's a big problem,"
"Itu rata-rata (usia) SMA dan masuk sekolah," kata dia.
Tingginya potensi penularan Covid-19 pada anak usia SMA harus menjadi pertimbangan dalam menentukan skema pembelajaran di sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021.