Wabah Virus Corona
Awalnya Banyak Diragukan lalu Revisi Data Kematian Covid-19, WHO Yakin Negara Lain Bakal Tiru China
Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan, banyak negara akan mengikuti China merevisi data korban meninggal Covid-19 jika wabah bisa teratasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JENEWA - Angka kematian akibat virus corona atau covid-19 di China awalnya banyak diragukan.
China kemudian melakukan revisi data tersebut.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan, banyak negara akan mengikuti China merevisi data korban meninggal Covid-19 jika wabah bisa teratasi.
Wuhan, episentrum virus corona, mengakui terdapat kesalahan dalam menghitung angka kematian setelah data terbaru menunjukkan terdapat kenaikan 50 persen.
• PBB Khawatir Dampak Ganda Covid-19 di Afrika, Bisa Tewaskan 300 Ribu Orang dan Kemiskinan Ekstrem
Pengumuman yang disampaikan ibu kota Provinsi Hubei itu terjadi setelah dunia menyoroti dugaan kurangnya transparansi China selama wabah.
WHO menyatakan, Wuhan sudah kewalahan karena Covid-19, dengan otoritas lokal sibuk memastikan setiap infeksi dan korban meninggal tercatat dengan baik.
Otoritas di kota itu disebut awalnya disebut berusaha menutupi data sebenarnya, antara lain dengan menghukum dokter yang berusaha memberikan peringatan.
Kemudian terdapat keraguan mengenai datanya karena mereka berulang kali melakukan perubahan pada datanya ketika puncak wabah terjadi.
"Ini adalah tantangan selama pandemi, mengidentifikasi setiap kasus dan data kematian," ucap Maria van Kerkhove, ketua satuan tugas Covid-19 WHO.
Dia menuturkan, pihaknya mengantisipasi negara lain akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Beijing untuk mengecek kembali data mereka.
Van Kerkhove menerangkan, saat ini pemerintah Wuhan sudah mulai memeriksa dan melakukan pengecekan silang kematian karena virus corona.
Wuhan menambahkan 1.290 kematian baru, sehingga data total menunjukkan mortalitas di sana 3.869, dan 325 kasus baru, dengan totalnya 50.333 infeksi.
• TERUS DISERANG Isu Pemalsuan Data Kematian Akibat Covid-19, China Angkat Suara & Buat Penegasan Ini
Dikutip Kompas.com dilansir AFP Jumat (17/4/2020), Van Kerkhove mengatakan, karena sistem layanan kesehatan kewalahan, sejumlah pasien disebut meninggal di rumah.
Kemudian ada juga yang wafat di fasilitas darurat. Medis yang fokus merawat pasien disebut tidak bisa menyelesaikan laporannya tepat waktu.
"Setiap negara akan menghadapi ini (pengecekan ulang)," kata Michael Ryan, direktur darurat organisasi kesehatan di bawah PBB tersebut.