Dihantam Virus Corona, Ekonomi Amerika Serikat 2020 Diprediksi Suram | Angka Pengangguran Meningkat
Kegagalan itu, dan hilangnya jutaan lapangan kerja, pada akhirnya bisa memperburuk krisis ekonomi di Amerika Serikat.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Amerika Serikat dikenal sebagai negara adidaya, dengan superioritas dalam banyak aspek.
Mulai dari militer, teknologi hingga industri dan perekonomiannya.
Namun hantaman virus Corona membuat Amerika Serikat kini menjadi negara dengan dampak terparah akibat pandemi Covid-19 dari infeksi Coronavirus SARS-CoV-2 itu.
Negara berjuluk negeri Paman Sam itu kini menghadapi situasi tak menggembirakan yang menadi dampak dari 'invasi' virus mematikan yang pertama kali diketahui muncul dari Wuhan, China itu.
• Saat Militer Amerika Bantu Perangi Covid-19, China justru Kirim Kapal Induk Dekati Jepang & Taiwan
Termasuk dari sisi perekonomian, di mana negara adidaya ini diprediksi akan mengalami masa suram.
Penutupan paksa bisnis di seluruh Amerika Serikat dan meningkatnya pengangguran akibat pandemi virus corona akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi AS akan terkontraksi.
Tak tanggung-tanggung, sebesar 30% pada pada kuartal kedua secara year on year.
Sementara secara keseluruhan, kontraksinya sekitar 5% pada 2020 ini.
Prediksi itu dirilis oleh Pacific Investment Management Co (PIMCO) pada Rabu.
Melansir Reuters, dalam sebuah postingan blog, Tiffany Wilding, seorang ekonom Amerika Utara di PIMCO, menulis bahwa bukti dari laporan data tenaga kerja AS baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat pengangguran dapat naik hingga 20%.
• KABAR Gembira, WHO Ungkap Ada 70 Kandidat Vaksin Virus Corona Covid-19 | 3 Sudah Dicoba ke Manusia
Selain itu, kontraksi 30% dalam pertumbuhan pada kuartal kedua, diukur pada tingkat tahunan, kemungkinan akan diikuti oleh dua kuartal pemulihan, tulis Wilding.
Sementara dua kuartal yang mengalami kontraksi lebih pendek dari empat kuartal yang dicatat dalam krisis keuangan 2008.
PIMCO yang berbasis di California adalah salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia dengan aset yang dikelola mencapai US$ 1,91 triliun pada 31 Desember 2019.
“Kecepatan dan besarnya gangguan pasar tenaga kerja AS lebih tajam daripada yang pernah kita saksikan dalam sejarah baru-baru ini,"
"Hal itu menunjukkan bahwa penurunan aktivitas secara keseluruhan juga kemungkinan jauh lebih parah,” tulis Wilding seperti yang dikutip Reuters.
• WASPADA!, Kenali Gejala Baru Saat Terinfeksi Virus Corona | Hati-hati Positif Covid-19 Tanpa Gejala