Virus Corona Masuk Kalbar
Dokter Andriani Menangis Terima APD untuk Layani Pasien Kasus Virus Corona di Kalbar
Bantuan ini sangat bermanfaat untuk kami yang bersentuhan langsung dengan ODP dan PDP. Dokter Andriani bersyukur masih ada orang baik.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak Ni Made Gunarsih
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dokter Andriani terharu setelah mendapatkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) berupa "Face Shield" dari Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan), Jumat (27/3/2020).
Dokter Andriani menerima bantuan APD di Laboratorium Digital Control and Computation Fakultas Teknik Untan.
"Jujur saya sangat terharu dengan bantuan yang diberikan Fakultas Teknik, tadi saja saya menangis ketika berangkat ke sini. Karena bantuan ini sangat bermanfaat untuk kami yang bersentuhan langsung dengan ODP dan PDP" kata Dokter Andriani.
Rumah Sakit Untan tempat dokter Andriani melayani pasien Orang Dengan Pemantauan (ODP) Virus Corona di Kalbar maupun Pasien Dalam Pemantauan (PDP) Covid-19 di Kalbar, adalah salah satu rumah sakit rujukan di Kalbar.
Seiring bertambahnya jumlah ODP dan PDP Covid-19 di Kalbar APD yang ada sudah mulai mengalami penurunan stok.
Kondisi ini membuat tenaga kesehatan mulai resah dan pasrah, apalagi pengadaan barang tidak semudah hari biasa.
Dokter Andriani mengatakan, face shield yang memiliki harga cukup tinggi.
Ini yang membuat tenaga medis merasa mendapat angin segar dari bantuan yang diberikan oleh Fakultas Teknik Untan.
• Lawan Corona, Siaga Tim Tanggap Covid-19 Sampai Tingkat Desa di Kabupaten Sintang
• Bupati Muda Benarkan Satu ASN Kubu Raya Berstatus ODP Covid-19
"Untuk waktu normal tanpa corona, harga satuan Face Sheild saja Rp 100 ribu. Apalagi dalam situasi seperti ini, sekarang sudah mencapai Rp 400 ribu setau saya," ujarnya.
"Tentu ini membuat kami (tenaga medis) bisa sedikit merasa tenang dan sangat bersyukur masih ada orang baik yang mau membantu" paparnya.
Andriani berharap masyarakat juga ikut membantu meringankan pekerjaan dari tenaga medis dengan tetap berada di rumah.
Dan tidak beraktivitas di luar jika tidak perlu apalagi sekedar nongkrong.
"Saya berharap masyarakat mematuhi aturan pemerintah untuk di rumah aja, itu sudah sangat membantu kami sebagai tenaga medis karena Covid-19 ini hanya bisa diredam jika semua pihak bekerja sama bukan hanya tenaga medis dan pemerintah saja" jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson mengatakan saat ini alat rapid test yang ada dengan jumlahnya terbatas.