Virus Corona Masuk Kalbar

Pulang dari Malaysia, Satu Warga Perbatasan Sintang Dikarantina Mandiri

Warga tersebut melaporkan diri ke Puskemas setempat dan sudah masuk kategori Orang dalam Pemantauan (ODP).

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA/Tinson
Jembatan darurat: Jembatan darurat inilah yang digunakan warga di perbatasan untuk menyebrangi sungai ketika hendak pergi ke perbatasan melalui jalur tradisional di Sungai Kelik, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar). 

SINTANG - Seorang warga Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalbar, harus menjalani karantina mandiri setelah pulang dari Malaysia diduga lewat jalan tradisional.

Warga tersebut melaporkan diri ke Puskemas setempat dan sudah masuk kategori Orang dalam Pemantauan (ODP).

Semula, tersiar kabar jika warga yang pulang dari Malaysia tersebut dicurigai terinfeksi corona.

Pesan WhatsApp tersebut tersebar dan meresahkan warga setempat.

CEGAH Penyebaran Corona, Warkop & Cafe di Pontianak Diwajibkan Tidak Layani Makan Minum di Tempat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh mengkonfirmasi benar ada warga di perbatasan yang baru pulang dari Malaysia.

Namun, Sinto membantah jika warga tersebut terpapar corona.

Warga tersebut kata Sinto, justru sukarela melaporkan diri ke Puskemas dan dilihat tidak menunjukan tanda-tanda infeksi.

“Tidak benar pesan yang beredar menyebut warga tersebut terkena corona. Orang tersebut melaporkan diri ke Puskesmas karena baru pulang dari Malaysia." katanya, Jumat (20/3/2020). 

Jadi kami sarankan mengisolasi diri. Kalau seandainya dia dicurigai Corona, tidak akan kami biarkan berkeliaran, tentu akan kami isolasi di rumah sakit. Yang bersangkutan melapor ke Puskesmas secara sukarela dan diminta untuk isolasi mandiri,” ujar Sinto.

Kepala Desa Nanga Sebawang, Kecamatan Ketungau Hulu, Tinson juga sudah mendengar informasi ada warga yang baru pulang dari Malaysia tersebut.

Tinson memastikan kabar bahwa warga tersebut terpapar corona tidak benar.

Menurut Tinson, warga yang baru pulang dari Malaysia tersebut diduga lewat jalan tradisional.

“Desa Nanga Bayan yang ada keluar masuk ke Malaysia, kemudian Sungai Kelik yang pasti ada keluar masuk. (kalau yang warga yang dilaporkan pulangnya) kemungkinan Dari desa jasa atau Desa Wak Sepan,” ungkapnya.

Tinson mengungkapkan cukup dekat jarak dari Jasa Sungai Kelik jika ingin ke Malaysia.

Hanya perlu waktu satu jam jalan kaki menuruni perbukitan, sudah sampai di pasar Kuari Lacau, Serawak, Malaysia.

“Ada banyak jalan tikus. Ndak semua ada Pos Pamtas,” ungkapnya kepada Tribun Pontianak.

Sepengetahuan Tinson, dua bulan terakhir masih banyak warga yang melintas batas negara.

Tidak hanya melalui jalur tradisional, ada pula yang lewat PLBN Entikong.

“Jalan kaki, dari pos satu jam sampai Malaysia. Pasar Kuari Lacau ibaratnya pangkalan pasar Indonesia."

"Khusus penampung untuk masyarakat perbatasan. Ndak pakai paspor, Cuma kita wajib lapor,” ungkap Tinson.

Saat musim buah, banyak warga yang membawanya ke pasar Kuari Lacau.

Sebagian lagi ada yang menjualnya ke Balai Karangan, Kabupaten Sanggau.

Sejumlah warga desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia di Kecamatan Ketungau Hulu kata Tinson sudah mendapatkan imbauan agar warga dilarang masuk ke Malaysia untuk mengantisipasi wabah corona.

“Warga saya sudah diimbau untuk jangan dulu ke Malaysia. Kalau dua bulan lalu masih ada yang masuk. Sekarang sudah tidak ada lagi, harus hati-hati antisipasi corona. Saya larang masuk,” jelas Tinson. (*)

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved