Deportasi ABK Vietnam

27 ABK Vietnam Dideportasi, Terbukti Melanggar Wilayah ZEE Indonesia di Laut Natuna

Tatang melanjutkan, PSDKP menangkap tangan 3 kapal berbendera Vietnam tersebut

Tribunpontianak.co.id/Rivaldi Ade Musliadi
Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak menggelar press conference terkait akan di deportasi 27 ABK Vietnam yang melakukan pelanggaran di wilayah perairan Indonesia. Press conference dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Tatang Suheryadin, Senin (10/3/2020). 

PONTIANAK - Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak Tatang Suheryadin menjelaskan, 3 kapal asing beserta ABK yang ditangkap oleh PSDKP.

Diantaranya, KG 95118 TS dengan 2 awak tertangkap tangan oleh kapal pengawas KP Macan 01, dan KG 94629 TS dengan 10 awak tertangkap tangan oleh kapal pengawas KP Orca 03, serta KG 93255 TS dengan 15 awak tertangkap tangan oleh kapal pengawas KP Hiu 11.

Tatang melanjutkan, PSDKP menangkap tangan 3 kapal berbendera Vietnam tersebut yang melakukan penangkapan ikan di sekitar perairan Laut Natuna Utara (ZEE Indonesia).

Ketiga kapal muatan tersebut, kata dia, memasuki batas perairan Indonesia tanpa dilengkapi dokumen perizinan yang sah dari pemerintah Indonesia yaitu Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) serta menggunakan alat tangkap ikan yang dilarang (Pair Trawl).

BREAKING NEWS - Imigrasi Pontianak Akan Deportasi 27 ABK Vietnam dan Denda 3 Nahkoda Rp 6 Miliyar

"Total awak berjumlah 27 orang diserahkan PSDKP ke kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak pada 3 Maret kemarin, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sehubungan dengan dugaan pelanggaran keimigrasian. Sesuai dengan hasil pemeriksaan pada masing-masing awak kapal berjumlah 27 orang tersebut, yang bersangkutan mengakui bahwa tidak mengetahui sudah berads di wilayah perairan Indonesia, karena tugas mereka hanya menarik jaring dan memilih ikan," ujar Tatang Suheryadin, pada press conference, Senin (9/3).

Namun, lanjut Tatang, keberadaan Warga Negara Vietnam di ketiga kapal perikanan diduga tidak menghormati, dan tidak menaati peraturan perundang-undangan dengan menggunakan alat tangkap ikan yang dilarang sehingga mengancam keberlanjutan Sumber Daya Laut Indonesia.

"Mereka terbukti melanggar pasal 75 ayat 1 undang-undang nomor 6 tahun 2011, yang mana Pejabat Imigrasi berwenang melakukan tindakan administrasi keimigrasian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia, yang melakukan kegiatan berbahaya dan patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum, atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundang-undangan," ungkap Tatang.

Sedangkan untuk penangungg jawab alata angkut atau nahkoda kapal, saat ini masih diperiksa lebih lanjut di PSDKP Pontianak, sehubungan dengan dugaan melanggar pasal 92 Jo. Pasal 26 ayat 1, dan pasal 93 ayat 2 Jo. Pasal 27 ayat 2, pasal 85 Jo. Pasal 9 UU RI nomor 45 tahun 2009, tentang perubahan atas UU RI nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan.

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved