Dosen Untan Ini Berbagi Pengalaman menjadi Investor, Wendy: Awalnya 'Main-main'
Ditanya soal keuntungan, Wendy mengatakan relatif. Karena dalam saham tidak hanya bicara untung, tapi juga resiko.
PONTIANAK - Berawal dari hanya "main-main" begitulah istilah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, Dr Wendy M Sc, terjun dalam dunia investasi pasar modal pada 2006 silam hingga sekarang.
Ditemui Tribun Jumat (14/2/2020) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan Pontianak, Wendy sedikit berbagi pengalaman, menjadi investor, terlebih kepada para investor pemula.
"Awalnya 2006 ya, saya hanya main-main, waktu itu," kata Wendy dengan nada candaan
Namun Dosen yang sudah 15 tahun mengajar di FEB Untan ini mengatakan, kebetulan sejalan dengan studi yang diambilnya, Dr Wendy juga belajar teori keuangan, teori investasi dan banyak hal, sehingga menambah ketertarikan dalam hal keuangan, termasuk saham pasar modal.
"Prakteknya seperti apa, jadi waktu itu belajar forex, indeks, termasuk belajar saham waktu itu, saya masih kuliah semester akhir," ujar Dr Wendy.
Ditanya soal keuntungan, Wendy mengatakan relatif. Karena dalam saham tidak hanya bicara untung, tapi juga resiko.
"Soal keuntungan tergantung kepada analisisnya. Jadi ada resiko dan keuntungan. Jadi ketika kita berinvestasi ada porsi resikonya disitu. Kalau ditanya nilai persenya idealnya diatas nilai deposito," ujar Dr Wendy.
• BEI Target 75 Emiten Baru, Taufan: 1 Perusahaan di Kalbar Siap Go Publik
Berbagai tantangan dalam dunia pasar modal pernah ia rasakan, apalagi saat situasi anjloknya nilai saham, karena berbagai hal seperti krisis pada 2008 juga pernah ia rasakan.
Iapun sedikit berbagi tips kepada investor pemula, terutama anak-anak millenial bahwa dalam pasar modal selalu ada resiko atau risk. Maka penting memahami konsep.
"Mahasiswa perlu memahami konsep, karena resiko memang tidak bisa kita hindari. Tapi kita bisa meminimalisir resiko dengan mencari saham yang recovery nya cukup cepat," ungkap Dr Wendy.
Kemudian berkenaan manfaat investasi bagi kalangan milenial, menurutnya, memang tidak semua berminat berinvestasi di pasar modal. "Anak keuangan sekalipun tidak semuanya punya minat," imbuhnya
Masing-masing lanjutnya punya psikologi investasi yang berbeda.
"Kita tidak bisa memaksa atau mengatakan investasi dipasar modal adalah yang terbaik. Karena investasi dipasar modal itu juga berkaitan dengan resiko. Jadi kalau kita bicara tataran resiko terendah dan tertinggi, pasar modal itu berada di tingkat menengah dan tinggi," ungkapnya
Jadi lanjutnya, ketika mahasiswa sudah berinvestasi atau belajar trading, maka dia secara mental juga telah mempersiapkan diri dengan resiko.
"Karena tidak selalu kita bicara return saja, selalu ada risk atau resiko dan keduanya linier. Returnnya tinggi risk nya tinggi juga," ujarnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/dr-wendy-m-sc.jpg)