Cap Go Meh
TKW Brunei Darussalam Kepincut Atraksi Tatung Singkawang
Kedua tangannya tak henti-hentinya berayun dengan jari jemari seperti sedang membuat jurus silat.
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Jamadin
SINGKAWANG - Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Brunei Darussalam, Michel (44) kepincut pesona atraksi yang dilakukan Tatung saat melakukan tradisi ritual cuci jalan di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Jalan Sejahtera, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Jumat (7/2/2020).
"Seru, tradisional banget, ramai banget," katanya.
Perayaan Cap Go Meh menjadi momen yang ditunggu-tunggu Amoi asal Kota Singkawang ini.
Apalagi ia hanya pulang sekali dalam dua tahun selama 15 tahun menjadi TKW.
Rasa bangga akan kebudayaan yang dipelihara dengan sikap saling menghormati dan kerukunan umat beragamanya begitu terasa kala ia pulang ke kampung halaman.
• Jelang Cap Go Meh, Tatung Singkawang Liu Miau Fab Bong Jalani Puasa Mutih Tiga Hari
Michel berharap kebudayaan ini terus dikembangkan dan dilestarikan hingga ke generasi-generasi. "Bagus kalau kayak gini dilestarikan sampai generasi berikutnya," harapnya.
Tradisi ritual cuci jalan berlangsung baik. Suara loku (gendang) bersama gong dan lonceng menghentak jalan di negeri berjuluk 1.000 klenteng, menggiring para tatung memasuki Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Jalan Sejahtera, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat.
Satu persatu Tatung memasuki Vihara untuk berdoa dan memohon petunjuk kepada dewata atau leluhur. Ada yang tua, muda, pria dan wanita mengenakan pakaian khas masing-masing.
Para kru yang mendampingi turut masuk membawa tandu, dupa, kertas, pedang, golok, tongkat, lonceng dan alat lainnya yang digunakan sebagai pelengkap atraksi Tatung.
Sesaat sebelum memasuk Vihara, mereka melakukan atraksi. Kerumunan ratusan pengunjung di depan Vihara yang menonton dan mengabadikan dengan ponsel maupun kamera tak gentar mengusik mereka.
Bau kemenyan dan dupa menyengat di sekitar rombongan para tatung. Tubuh mereka bergetar ketika berjalan.
Bergerak tak bisa diam. Kedua tangannya tak henti-hentinya berayun dengan jari jemari seperti sedang membuat jurus silat.
Beberapa tatung lainnya melakukan atraksi di atas tandu. Besi tajam yang menempel pun diinjak sambil berusaha melompat-lompat.
Seperti menginjak kayu biasa, kulit kaki mereka tak tergores sedikit pun, hanya terlihat bekas membentuk dari kulit.
Tatung lainnya tak juga kalah seru. Sambil memegang golok, mereka menggosok-gosokkannya ke seluruh tubuh. Mulai tangan, badan, kaki, leher, wajah, telinga, hidung hingga lidah. Anehnya tak ada luka gores yang terlihat.