Pengamat Politik Nilai Pilkada di Bengkayang Masih Ada Residu Sentimen Identitas
Elite politik kita di daerah masih saja mengocok komposisi bakal calon kepala daerah berbasis identitas etnis.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Maudy Asri Gita Utami
News Analysis
Pengamat Politik Kalbar
Ireng Maulana
PONTIANAK - Satu diantara pengamat politik di Kalbar, Ireng Maulana menilai jika di Pilkada 2020 yang satu diantaranya ialah di Bengkayang, masih saja ada sentimen identitas.
Berikut penuturannya.
Jika kita nilai, masih ada semacam residu sentimen identitas yang sulit sekali di bilas bahkan menjelang pilkada serentak 2020.
Elite politik kita di daerah masih saja mengocok komposisi bakal calon kepala daerah berbasis identitas etnis.
• Golkar Belum Keluarkan Rekomendasi untuk Pilkada Bengkayang, Ini Penjelasan Prabasa
Sayangnya, masyarakat juga jadi ikut menikmati dinamika ini.
Meletakkan polarisasi komposisi bakal kepala daerah melalui identitas etnis tidak menguntungkan sama sekali karena menutup potensi lain yang dimiliki oleh para kandidat.
Masyarakat terafiliasi hanya karena mereka berasal dari suku yang sama namun luput dengan kompetensi, kapasitas, gagasan atau kapabilitas para kandidat.
Semakin mendekati pilkada, masyarakat kemudian menjadi semakin yakin bahwa harus ada representasi etnis mereka dalam komposisi pasangan.
Demikian pula pragmatisme parpol yang ikut menciptakan keharusan politisasi etnis dalam jabatan politik di daerah.
Pilkada seharusnya ruang tarung visi dan gagasan masih harus mengalah dengan sentimen kesukuan.
Regenerasi kepemimpinan kita akan mundur kebelakang karena yang di kehendaki memimpin bukan yang berkualitas tapi etnisitas.
Seharusnya pilkada serentak 2020 menjadi semacam peralihan dari kekuatan sentimen etnis kepada latar belakang gagasan dan rekam jejak yang baik dari para kandidat.
Bengkayang merupakan salah satu kabupaten yang punya kesempatan untuk melakukan transformasi tadi dengan kesadaran penuh bahwa kepemimpinan yang baru lebih memperhatikan kualitas dari pada isu-isu primordial yang sudah tidak lagi relevan dengan konteks demokrasi daerah dimasa depan. (*)
Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838
Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/pengamat-politik_20180801_104146.jpg)