Waspada Ribuan Babi Mati Mendadak dan Dijual Harga Murah, Peternak Minta Kejelasan Pemerintah
Berdasarkan data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, per 31 Januari 2020 jumlah babi mati di Bali mencapai 888 ekor.
Di sisi lain, masyarakat menjadi takut mengkonsumsi daging babi sehingga penjualan juga menurun.
Padahal, virus yang mengenai babi tidak akan tertular pada manusia.
“Ini kejadian yang luar biasa. Sangat berdampak terhadap peternak dan konsumen,” kata Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa, Jumat (31/1/2020).
Pengusaha peternak babi pun sangat menyayangkan hasil laboratorium tidak kunjung keluar, dengan alasan yang berhak untuk mengumumkan hasil laboratorium tersebut adalah dari Kementrian Pertanian.
Padahal beberapa kabupaten seperti Badung dan Tabanan sudah memberikan sampel darah terkait babi yang mati.
“Melihat dari kejadian ini, kita kan ingin tahu virus ini african swine fever (ASF) atau bukan? Sampai sekarang kita masih menunggu,” ungkapnya.
Pihaknya mengatakan pada jajaran peternak tidak peduli dengan virus ASF tersebut.
Mereka hanya meminta agar pemerintah berbuat untuk menyelamatkan para peternak yang babinya terkena virus.
“Jadi sebelum diputuskan hasilnya kita akan terus bergerak dari desa ke desa untuk melakukan penanganan virus yang kita tidak tahu dan tidak ada obatnya,” bebernya.
Adanya isu virus ASF menyebabkan kepanikan terhadap masyarakat, juga sangat berdampak kepada peternak babi.
“Kalau babi kami tidak mati, harga jual kami malah yang kacau. Semestinya di hari raya Galungan kita tersenyum, tapi kenyataanya malah susah. Karena nilai jual kami malah di bawah harga biasanya,” jelasnya.
Di wilayah terdampak, seperti Badung, Gianyar, Tabanan, dan Klungkung harga babi turun drastis yakni Rp 22.000 per kilo.
Dari sebelumnya Rp 27.000 per kilo.
Sedangkan harga babi di wilayah Singaraja masih aman di angka Rp 28.000 perkilo. Itu pun dihitung dengan harga babi yang masih hidup.
Pihaknya pun meminta kepada pemerintah terkait solusi penanganan virus saat ini.