Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad Jadi Profesor Tamu di Unissa Brunei Darussalam

Buku yang banyak itu, kemudian dibawa UAS saat ceramah. Dimasukkan ke dalam koper, dengan niatan menulis saat selesai ceramah.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Instagram Ustadz Abdul Somad Official
Momen Ustadz Abdul Somad ditetapkan sebagai profesor tamu dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (Unissa) Brunei Darussalam. 

Ustadz Abdul Somad mendapat anugerah sebagai Profesor Tamu di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (Unissa), Brunei Darussalam.

Penetapan UAS sebagai profesor tamu digelar di Unissa Brunei Darussalam, Selasa (28/1/2020).

Ustadz Abdul Somad akan menjadi profesor tamu di Fakultas Ushuluddin selama dua tahun.

UAS mulai menjadi profesor tamu terhitung mulai 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2021.

Momen-momen UAS menerima anugerah ini diabadikan dalam postingan di akun Instagram Ustadz Abdul Somad Official.

Pada kesempatan itu, UAS juga menyampaikan kuliah umum di hadapan Rektor, para Dekan, Professor dan mahasiswa/i Universiti Islam Sultan Sharif Ali (Unissa), Brunei Darussalam.

Usaha UAS Selesaikan Studi di Sudan

Ustadz Abdul Somad menceritakan proses dirinya meraih gelar doktor dari Oumdurman Islamic University Sudan, Selasa (24/12/2019).

UAS berhasil meraih nilai mumtaz alias cum laude dengan disertasi 'Kontribusi Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari Dalam Penyebaran Hadits di Indonesia'.

Disertasi itu ditulis Ustadz Abdul Somad 600 halaman.
UAS menceritakan, seorang teman pernah datang dan bertanya kepadanya, kapan waktu menulis disertasi 600 halaman.

"Bayangkan, sampai kawan akrabpun tidak percaya kita menulis itu. Jangankan orang, sayapun tak percaya kapan saya menulis tu. Rasanya tak mungkin. Ceramah lagi, dikejar Polisi lagi, diawasi intel lagi," kata Ustadz Abdul Somad.

UAS mengatakan, suatu hari dirinya pulang ke rumah. Saat itu dirinya membaca buku yang ditulis cicit Syekh Hasyim Asyari yang di dalamnya menyatakan bahwa Syekh Hasyim Asyari ada menyusun kitab hadits arbain.
"Selama ini kita mengambil ijazah arbain Nawawi. Rupanya Syekh Hasyim punya kitab arbain. 

Ustadz Abdul Somad kemudian mengkaji buku tersebut. Dirinya juga meminta kiriman dari teman-temannya.

"Ada penulis biografi Syekh Hasyim Asyari dari Jogjakarta dikirimnya buku satu kardus. Lalu ada kemudian Ustadz Afifuddin dari Jombang, dikirimnya lagi buku tentang Syekh Hasyim Asyari," kata UAS.

Buku yang banyak itu, kemudian dibawa UAS saat ceramah. Dimasukkan ke dalam koper, dengan niatan menulis saat selesai ceramah.

"Begitu ditengok, mengantuk tidur. Nanti ada kosong satu hari mau nulis. Begitu mau menulis di rumah, masuk telpon. Ustadz, bisa maulid Nabi? Ustadz bisa Isra' Mi'raj?," cerita UAS.

Akhirnya buku yang banyak itupun lebih dari satu tahun tak pernah tersentuh. Tidak terbaca.

UAS sempat berfikir, setelah Pilpres dirinya akan mulai mengetik. Namun ternyata tak juga bisa.

"Akhirnya saya ambil break masa kosong. Matikan handphone, menulis aja kerja saya," kata UAS.

Setelah jadi, disertasi itupun dibawa ke Sudan pada bulan Juli.

Sampai bulan Juli dibaca oleh dosen pembimbing, disuruh melakukan beberapa perbaikan.

"Saya perbaiki lagi. Tiga kali revisi. Tengokkan lagi. Rupanya mereka ini membaca detail. Sampai huruf alifnya pun dicoretnya," kata UAS.

Setelah tiga kali direvisi, baru direkomendasikan untuk sidang.

"Pas dibawa ke kantor, dicek ke kampus Oumdurman Islamic University, syarat sidang harus dua tahun. Terdaftar tertanggal 14 November 2017. Saya datang Juli, kurang empat bulan," kata UAS.

Setelah itu, UAS pulang ke Riau. Baru pada November, UAS kembali lagi mengurus persyaratan sidang doktoral.

"14 November mau diurus, keluar peraturan baru. Semua mahasiswa yang terdaftar 2017 harus punya nomor induk mahasiswa nasional. Urus lagi, molor," kata UAS.

Setelah selesai itu, keluar lagi peraturan semua ijazah mahasiswa yang datang dari luar negeri musti dilegalisir ulang.

Persyaratan itupun kemudian dipenuhi UAS. Namun ternyata belum selesai.

Saat sudah tiba di Sudan, pada Desember 2019, UAS yang menunggu tanggal sidang mendapat kabar bahwa seluruh urusan anak Indonesia dipending sampai pak Dubes mau menghadap.

"Akhirnya menghadaplah pak Dubes, selesai. Menurut pak Dubes, waktu sidang ditetapkan tanggal 24. Alhamdulillah," cerita UAS.

Lalu setelah itu justru keluar di koran, libur tiga hari. 

"24, 25, 26. Sejak dulu tak ada libur di hari itu. Di sana libur hari Jumat. Jadi nyambung ke tanggal 27 dan 28. Memang rasa-rasa mau terjun ke Sungai Nil tu," kata UAS.

Akhirnya UAS menghadap, lalu kemudian berita rupanya yang libur tiga hari itu non muslim.

Sehingga UAS boleh bersidang tanggal 24 hingga akhirnya sukses meraih nilai mumtaz.

Simak cerita selengkapnya dalam video berikut ini:

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved