Kepsek Ungkap Kondisi Sekolah Memprihatinkan, Satu Bangku Diduduki Tiga Orang.
Selain kekurangan lokal, SDN 12 Merahau juga kekurangan bangku. Akibatnya, satu bangku diduduki oleh tiga orang siswa.
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Syahroni
SINTANG - Ditengah pesatnya kemajuan teknologi dan perkembangan jaman, masalah pendidikan masih menyisakan persoalan yang harus diselesaikan.
Seperti yang terjadi di Kabupaten Sintang, masalah infrastruktur belum juga tuntas, belum lama heboh pemberitaan tentang sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Ketungau Tengah, yang terbuat dari bilah bambu dan beratapkan terpal.
Kondisi memprihatinkan juga terjadi pada sebuah Sekolah Dasar Negeri 12 Merahau, Desa Merahau Permai, kekurangan lokal. Sejak pertama kali dibangun pada tahun 1985 lalu, SDN di Kecamatan Kayan Hulu, Sintang, ini hanya memiliki empat kelas. Padahal seharusnya ada enam kelas sesuai jenjang pendidikan yaitu dari kelas satu hingga enam.
Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Kekurangan lokal disiasati dengan cara menyekat satu lokal. Kelas 4-5 digabung satu ruang kelas, hanya disekat triplek.
Selain kekurangan lokal, SDN 12 Merahau juga kekurangan bangku. Akibatnya, satu bangku diduduki oleh tiga orang siswa.
Kondisi itu lah yang dikeluhkan Kepsek SDN 12 Merahau, Anastasya Nurhayati saat sekolahnya dikunjungi Bupati Sintang, Jarot Winarno dan Anggota DPRD Dapil Kayan, Santosa.
"Kekurangan lokal dan bangku. Seharusnya enam, baru ada empat. Bangku juga kurang, satu bangku tiga orang," kata Anastasya, Minggu (26/1/2020).
Kelas yang mengalami kekurangan bangku, kelas 3. Untuk kelas 6 sebenarnya kursi berlebih. Tapi tidak bisa ditarik, karena ruangan tidak cukup. Penggabungan ruang kelas juga menyebabkan proses belajar mengajar diakui Anastasya tidak efektif.
"Susah diceritakan. Kalau guru sebelah menjelaskan, kelas lainnya lihat dengar, begitu juga sebaliknya," ungkap Anastasya. Sebenarnya, untuk menyiasati kekurangan lokal itu, Kepsek SDN 12 Merahau, Anastasya Nurhayati berniat untuk membuka kelas siang. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dilakukan. Sebab, SDN 12 Merahau ikut program KIAT guru.
"Program ini guru harus datang sebelum jam 7.15 WIB. Foto dulu untuk laporan. Makannya ndak bisa masuk siang. Kalau guru terlambat saja, dipotong tunjangannya," ujar Ana.
Mengenai tenaga guru, saat ini ada delapan orang di SDN 12 Merahau terdiri dari lima PNS, 2 honorer dan satu Guru Garis Depan (GGD).
Perumahan guru kata Ana, juga sangat diharapkan. Selama ini, para guru harus menumpang di rumah orang. Ana berharap, pemerintah membantu menambah lokal kelas dan mess guru.
"Harapan penyambungan lokal, ndak mungkin cuma empat , nanti peningkatan mutu kurang kalau berdesakan belajar. Mess guru juga, kasian guru saya numpang tempat orang," harapnya.
Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Santosa mengungkapkan kondisi SDN 12 Merahau, Kecamatan Kayan Hulu, sangat memperihatinkan. Sebab, siswa harus digabung menjadi satu ruangan dan disekat.
Menurutnya kondisi sekolah itu harus menjadi perhatian khusus pemerintah.
Legislator PKB ini mengungkapkan mengunjungi dan melihat langsung kondisi SDN 12 Merahau bersama dengan Bupati Sintang, Jarot Winarno bersamaan dengan menghadiri Natal Oikumene Sub Suku Dayak Undau di Desa Merahau, Kayan Hulu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kondisi-sdn-12-merahau-sintang.jpg)