Deni Bangga Belajar di Sekolah Bambu, 12 Siswa Pilih Berhenti

Dia merupakan satu dari 20 siswa yang masih bertahan dari sulitnya menempuh pendidikan di kawasan perbatasan.

Tayang:
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Madrosid
Tribunpontianak.co.id/Agus Pujianto
Siswa SMA N 2 Ketungau Tengah sedang beristirahat di luar sekolag bambu. Mereka memainkan gitar menyanyikan lagu berbahasa lokal. 

SINTANG - Memang bukan gedung sekolah. Mereka menyebutnya tenda belajar. Atap terpal, dinding bambu berlantai tanah. Itulah kondisi SMAN 2 Ketungau Hilir yang dibangun darurat oleh masyarakat, komite sekolah menggunakan duit hasil patungan.

“Meskipun sekolah serba kekurangan, dan sederhana, kami merasa bangga karena yang membangun sekolah ini, bukan dari pemerintah, ini orangtua kami, guru, murid juga ikut,” kata Nikolaus Deni bangga kepada Tribun, Rabu (22/1).

Deni, adalah siswa kelas XII SMAN 2 Ketungau Tengah.

Badannya berisi. Potongan rambutnya, mirip tentara. Dia merupakan satu dari 20 siswa yang masih bertahan dari sulitnya menempuh
pendidikan di kawasan perbatasan.

“Kawan kami 12 orang berhenti sekolah,” ungkapnya.

Potret Pendidikan Sekolah di Daerah Pedalaman Kalbar, Atap Terpal, Dinding Bambu dan Lantai Tanah

Satu angkatan Deni, semula ada 32 orang. Yang bertahan sampai saat ini tinggal 20 siswa saja di kelas XII. Belasan siswa lainnya, memilih berhenti sekolah.

Menurut Deni, alasannya karena mengeluhkan fasilitas pendidikan. Total siswa yang bersekolah di SMAN 2 Ketungau Tengah sisa orang 45 orang.

“Dari dulu sampai sekarang, banyak yang putus asa, berhenti bersekolah, banyak alasannya, termasuk kondisi sekolah,” cerita Deni.

Ada tiga lokal tempat belajar Deni. Setiap kelas, disekat bilah bambu yang disusun rapi, kemudian direkatkan menggunakan kayu. Sekat yang dibuat tidak rapat. Banyak celahnya.

Saking lebarnya, bisa digunakan untuk mengintip suasana belajar. Akibatnya, proses belajar mengajak menjadi tidak efektif.

Kursi yang diduduki Deni dan puluhan siswa melekat jadi satu. Dibuat permanen. Tidak bisa digeser, apalagi diangkat. Kursi dan meja belajar itu, dibuat sepaket. Antara papan dan kayu jadi satu.

Kayu dibenamkan dalam tanah, di atasnya dibentangkan dua papan memanjang. Dipaku. Cukup untuk dua orang.

Tiga hari terakhir, kursi dan meja itulah yang digunakan oleh Deni dan puluhan siswa lainnya untuk belajar. Kata Deni, tempatnya lebih nyaman dibandingkan saat masih menumpang di SD 8 Nanga Seran, Kecamatan Ketungau Tengah.

“Sekarang meskipun ini sederhana, kekurangan, tapi saya menganggap pendidikan kami di sini mulai baik,” katanya.

Ruang sekolah tempat Deni belajar merupakan bangunan swadaya masyarakat. Dibangun sementara karena sudah terlalu lama menumpang di SD.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved