Rakorkab Sensus Penduduk 2020, Bupati Sintang Jarot: Data Penting untuk Tentukan Arah Kebijakan

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari unsur OPD, Forkopimda dan Camat se-Kabupaten Sintang.

Rakorkab Sensus Penduduk 2020, Bupati Sintang Jarot: Data Penting untuk Tentukan Arah Kebijakan
Istimewa/dok.Anwar
Bupati Sintang, Jarot Winarno menghadiri Rakorkab Sensus Penduduk 2020 (SP2020) di Aula Balai Praja Komplek Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Rabu (22/01). Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari unsur OPD, Forkopimda dan Camat se-Kabupaten Sintang. 

SINTANG - Bupati Sintang, Jarot Winarno menghadiri Rakorkab Sensus Penduduk 2020 (SP2020) di Aula Balai Praja Komplek Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Rabu (22/1/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari unsur OPD, Forkopimda dan Camat se-Kabupaten Sintang.

Pada kesempatan itu, Jarot mengatakan bahwa satu data Indonesia adalah upaya untuk menyiapkan data yang akurat, mutakhir, akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan dan terpadu.

“Disitu isinya ada data statistic dan geospasial, mudah diakses oleh seluruh stakeholder dari pemerintah pusat hingga pemerintah. Jadi, Indonesia ini sudah sadar data”ungkapnya.

Komisi B Rapat dengan PU, Bahas Infrastruktur Jalan dan Jembatan di Sintang

Menurut Jarot, data yang akurat sangat diperlukan. Induk dari segala data itu adalah data kependudukan. Data penduduk ini (Sensus) diselenggarakan 10 tahun sekali, dimulai tahun 1961.

"Ini adalah induk data yang sebenarnya. Kita sampai tahun ini, dalam menyusun sasaran pembangunan dan menyusun rencana kegiatan masih menggunakan data proyeksi dari Sensus tahun 2010” ungkap Jarot.

Jarot mengungkapkan bahwa data itu penting, data dasar yang diselenggarakan dengan metode sensus penduduk dari seluruh total populasi ini sangat penting, pasti akurat, update, kredibel dan bisa dijadikan landasan untuk membuat proyeksi di tahun-tahun berikutnya.

“Sensus ini sangat penting, kita sekarang concern dengan bonus demografi, apakah bonus demografi itu sudah menjumpai kita, bahwa manusia produktif 15 sampai 64 tahun itu lebih banyak daripada manusia yang tidak produktif. Dari bonus demografi, kalau kita tahu angkatan kerja muda kemudian ditambah data pengangguran terbuka, baru kita lihat, kalau penduduknya banyak tapi banyak yang menganggur, bukan menjadi bonus tapi menjadi beban," beber Jarot.

Selain itu, pemerintah juga concern dengan kaum milenial yang akan menentukan arah kebijakan, arah masa depan satu bangsa dan satu daerah.

"Kita gak tahu berapa semuanya, katanya 34% tapi masih pakai data proyeksi nanti dari sensus kita tahu besaran magnitude dari milenial ini berapa banyak," jelasnya.

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Penulis: Agus Pujianto
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved