SMART WOMAN - Sri Bangga Menjadi Polsuspas, Hadapi Tantangan Jadi Pengalaman Berharga
Wanita kelahiran tahun 1999 ini, dahulu adalah seorang mahasiswi di Politeknik Negeri Pontianak yang mencoba berkarir di Kemenkumham Kalbar.
PONTIANAK - Polsuspas (Polisi Khusus Pemasyarakatan) merupakan sebuah Korps Polisi Khusus (Special Police) sekaligus PNS (Pegawai Negeri Sipil) pusat di bawah Kementerian Hukum dan HAM yang bertugas dengan tanggung jawab pengawasan, pembinaan, keamanan, dan keselamatan narapidana dan tahanan.
Di usianya yang masih muda, Sri Nurdiana telah bergabung ke korps tersebut.
Dan ternyata, wanita kelahiran tahun 1999 ini, dahulu adalah seorang mahasiswi di Politeknik Negeri Pontianak yang mencoba berkarir di Kemenkumham Kalbar.
"Saya sempat kuliah hingga semester tiga jurusan Akuntansi, di Polnep dan saat itu tahun 2017 ada pembukaan CPNS lalu saya dan beberapa teman lainnya mencoba untuk ikut."
"Alhamdulillah saya lulus hingga akhirnya bisa bekerja di bawah Kementerian Hukum dan Ham," ujarnya saat di temui di Lapas Penjara Perempuan (LPP) kelas 11A, Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
• FOTO: Polsuspas Lapas Perempuan Kelas IIA Pontianak Sri Nurdiana
Sri mengatakan Anggota Polsuspas tersebar di berbagai Instansi Pemerintah seperti Rutan (Rumah Tahanan Negara), Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) dan Bapas (Balai Pemasyarakatan).
Sebelum menjadi Anggota Polsuspas, seseorang harus melalui seleksi yang ketat mulai dari tes CAT (Computer Assisted Tes), Tes Kemampuan Jasmani dan wawancara.
Lanjutnya, setelah dinyatakan lulus seleksi, Anggota Polsuspas dididik dengan kemampuan semimiliter seperti kemampuan fisik, kemampuan menembak menggunakan senjata api, bela diri dan lain-lain.
Bagi Sri, awal mula menjadi Polsuspas wanita tidaklah mudah.
Ia harus memiliki tubuh yang prima, dan juga kemampuan fisik untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pertengkaran warga binaan, kericuhan, dan hal tak terduga lainnya.
"Kita harus siap dalam menghadapi tantangan tersebut, karena itulah resiko dan amanah yang sudah diberikan maka tidak melulu soal kericuhan kita juga harus bisa menjadi penengah dan bersikap dewasa bagi para warga binaan," sebutnya.
Sri sendiri mengaku sangat bersyukur bisa bekerja dan menjadi PNS.
Walupun kegagalan yang dua kali ia lalui juga pernah dihadapi saat ia ingin mencoba sekolah di IPDN.
"Saya pernah gagal dua kali, saat mencoba sekolah di IPDN, namun berkat dukungan orangtua saya disuruh mencoba lagi menjadi CPNS di Kemenkumham, semua karena mama yang memotivasi saya hingga saat ini," tutur Sri bersyukur.
Baginya, ibu adalah sosok yang sangat luar biasa dalam memotivasi dirinya sehingga ia yakin dan percaya bahwa sebuah kegagalan yang diinginkan bukan benar-benar kegagalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sri-nurdiana2.jpg)