Pertolongan Satgas Pamtas Raider 641/Bru pada Nenek Sebatang Kara yang Tinggal di Gubuk Reyot

Saat dievakuasi, kondisi fisik Nenek Sempel sangat memprihatinkan dengan bengkak disekujur tubuh.

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Satgas Pamtas Raider 641/Bru
Satgas Pamtas Yonif Raider 641/Bru saat mengevakuasi Sempel (76) seorang nenek yang hidup seorang diri disebuah gubuk reyot di Dusun Sungai Ima, Desa Sotok, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Jumat (29/11/2019). 

SANGGAU - Satgas Pamtas Yonif Raider 641/Bru mengevakuasi Sempel (76) seorang nenek yang hidup seorang diri disebuah gubuk reyot di Dusun Sungai Ima, Desa Sotok, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Jumat (29/11/2019).

Saat dievakuasi, kondisi fisik Nenek Sempel sangat memprihatinkan dengan bengkak disekujur tubuh.

Ia dibawa menggunakan ambulan milik perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di sekitar kediaman Nenek Sempel.

"Kita bawa nenek berobat ke Pontianak. Mudah-mudahan setelah pengobatan, kondisi nenek ini jadi lebih baik,"kata Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 641/Bru, Letkol Inf Kukuh Suharwiyono saat memimpin evakuasi penyelamatan Nenek Sempel melalui rilisnya.

Pengobatan Nenek Sempel akan difasilitasi sepenuhnya oleh Yonif Raider 641/Bru.

Pangdam XII/Tpr Berangkatkan 450 Personel Satgas Yonif R 641/Bru ke Perbatasan RI-Malaysia

Belum diketahui berapa lama waktu pengobatan nenek yang hidup seorang diri tersebut, Dari pemeriksaan awal fisiknya ada beberapa masalah kesehatan yang diderita Sempel.

"Nanti ada paramedis di Pontianak yang menangani nenek ini, kita obati dulu, setelah semuanya stabil dan memungkinkan untuk dioperasi kataraknya, baru dioperasi,"jelasnya.

Kisah Nenek Rojinah

Terletak di tengah Kota Pontianak, sebuah rumah kayu yang masih sangat tradisional tampak kokoh. Di dalamnya tinggal seorang wanita tua yang hidup sebatang kara.

Rojinah binti Bujang yang berusia 69 tahun itu lah yang mendiami rumah yang terlihat masih layak tersebut. Rumah yang bisa dikatakan semi permanen itu berada di Gang Bunut, Jl Pak Kasih, Pontianak.

Saat Tribun memasuki rumah rasa miris pun timbul ketika melihat seisi rumah berantakan. Saat melangkah harus hati-hati karena lantai papan sudah banyak yang lapuk. Tak jarang lantai yang diinjak terasa bergoyang, dan menimbulkan bunyi berdecit.

Kondisi dalam rumah terlihat sungguh berantakan, setiap sudut rumah bertumpukan pakaian hingga barang-barang.

"Ini rumah warisan orangtua, tinggal sendiri di sini udah 34 tahun, sebelumnya numpang tinggal di rumah keponakan di belakang," ceritanya saat mengajak Tribun melihat isi rumahnya, Minggu (2/8/2015) sore.

Kondisi yang paling memperihatinkan adalah rumahnya yang tidak memiliki kamar mandi, hanya sebuah kakus yang sangat jauh dari kata sehat. Penampungan air hanya menggunakan ember bekas cat. Bahkan, pembuangan kotoran langsung dari kakus dengan saluran yang terbuat dari kayu ke dalam tanah.

"Katanya dulu ada yang mau buatkan WC, kata lurah yang dulu, Pak Rahmad kalau lurah yang dulu," ungkapnya tanpa bisa menutupi rasa kekecewaan dari wajahnya yang sudah menua.

Rojinah sendiri merupakan anak ke empat dari enam bersaudara, namun empat orang saudara kandungnya telah meninggal dunia. Rojinah yang diketahui tidak memiliki anak maupun suami tersebut kini terpaksa hidup dari bantuan keluarga.

"Dulu ambil upah nyuci, terus pernah sakit terus berhenti nyucikan orang. Sekarang dak mampu lagi kerja udah tua sakit-sakitan juga. Sekarang paling dikasi keluarga, jadi apa yang ada dikasi keponakan tuh ya saya hemat-hemat jak pakainya, asal ada nasi jak lah," ceritanya saat menunjukkan bagian dapur yang hanya terdapat kompor minyak tanah.

Dijelaskan Rojinah, bahwa memang membutuhkan bantuan untuk kondisi rumahnya. Seperti WC dan gelegar rumahnya. "Dapur ini jak gelegarnya udah banyak yang patah. Rumah ini pun dah goyang, ditahan-tahan jak pakai tambahan kayu. Kalau mau mandi pun di parit belakang lah, ngangkut air pakai ember kecil jak lah berulang-ulang yang besar dak kuat angkatnya," ceritanya.

Diakuinya rumah tersebut memang pernah mendapat bantuan untuk direhab. Namun, hanya beberapa keping papan untuk mengganti dinding depan. "Pernah dapat bantuan papan simperan cuma untuk dinding depan, dak dirombak abis. Lantai dapur udah abis, pupus lalu dah," ucapnya dengan mata sayup.

Selain bantuan rehab rumah yang hanya sekedarnya, kini ia hanya bisa gigit jari semenjak tidak lagi mendapatkan jatah Raskin dari pemerintah.

"Beberapa tahun lalu dapat bantuan dari pemerintah setahun lebih ini dak dapat lagi jatah beras. Dulu dua bulan sekali ambil dua karung seharge Rp 48 ribu untuk dua karung Raskin, sekarang dapat beras paling dari keponakan," lirihnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved