Forum IPOSC Cari Solusi Hadapi Tantangan Masalah Kelapa Sawit

Kehadiran Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi) tujuannya membantu petani agar memiliki posisi tawar terhadap pemerintah.

Forum IPOSC Cari Solusi Hadapi Tantangan Masalah Kelapa Sawit
TRIBUN/FILE
Kepala Dinas Perkebunan kalbar Florentinus Anum menyaksikan penandatanganan perjanjian kerjasama antara asosiasi petani sawit dengan BPJS Ketenagakerjaan saat pembukaan Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC), di Pontianak Rabu (27/11/2019). 

PONTIANAK - Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC) dilaksanakan di Kota Pontianak 27-28 November 2019. Pertemuan sekitar 300 petani sawit ini membahas lima agenda penting.

Yakni penguatan SDM, kelembagaan, kepastian sertifikasi lahan petani sawit, penerapan ISPO dan replanting.

Kadisbun: Tingkatkan Harga Sawit, Petani Harus Pakai Benih Unggul

Kasus DBD Meningkat, Ini Masyarakat Sekadau pada Dinas Terkait

Kegiatan yang diprakarsasi Media Perkebunan ini menaungi setidaknya ada empat organisasi petani sawit yang bernanung ke dalam Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi). Yakni Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspekpir), SerikatPetani Kelapa Sawit (SPKS), Sawitku Masadepanku (Samade) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo). 

Ketua Umum Aspekpir, Setiyono, menjelaskan kehadiran asosiasi ini sudah dirintis sejak tahun 1996 karena persoalan harga sawit. Saat ini anggotanya mencapai 600 ribu dan tersebar se-Indonesia.

“Pola kemitraan lebih bagus. Walau sudah bagus, harus kita jaga agar terpelihara. Pemerintahkan lagi gencar ISPO dan RSPO. Nah dari Aspekpir tidak masalah untuk itu. Karena kemitraan jadi lebih tertata. Apalagi sekarang bakal ada Perpres maka kita perlu dukung ISPO. Yang namanya kita ingin memperbaiki, yang penting dimulai saja dulu,” kata Setiyono.

Menurutnya, kendala ISPO pasti ada, tapi jangan membuat petani patah semangat.

“Ini harus dimulai dulu, kalau ditunda, tata kelola berkelanjutan gak kelar. Apalagi yang kita hadapi black campaign Eropa. Pemerintah juga harus selesaikan masalah sawit swadaya, penataan harus dimulai dari kelembagaan agar tata kelola sawit ini berjalan baik, sehingga mudah-mudahan kampanye hitam sawit bisa hilang,” ujarnya.

Acara ini, lanjutnya, bakal menjadi ajang bagi para petani untuk berkumpul dan memadukan visi untuk pengembangan dan penguatan organisasi petani dan peningkatan kapasitas petani. “Kita juga ingin mencari solusi bagi beragam permasalahan yang dihadapi oleh petani sawit di Indonesia,” jelasnya.

Kehadiran Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi) tujuannya membantu petani agar memiliki posisi tawar terhadap pemerintah. Selain untun memperecepat ke penataan pada anggotanya.

“Tugas kita, satu di antaranya menangkal kampanye hitam sawit. Jadi di sini kita perlu menyamakan persepsi dulu. Intinya, program pemerintah kita dukung, perbaikan dari anggota petani ini pun kita kawal,” sebutnya.

Di kesempatan tersebut, ia mengaku mendukung implementasi penerapan Biodiesel B30. Pengembangan biodiesel diharapkan meningkatkan permintaan minyak sawit di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.

“Asosiasi pasti mendukung. Jika implementasi B30 dilakukan, sangat bagus untuk penyerapan di dalam negeri. Kalau pemerintah betul-betul menangani dengan serius hal ini, maka kita tidak perlu minyak dari luar cukup dari sini saja,” katanya.

Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved