Pemilik Aming Coffee & Segitiga Kopi Berbagi Kisah Bisnis di Talkshow Pontianak Fashion Coffee Week

Akhirnya saya ke Jogja dan ke Jakarta untuk belajar kebaristaan, dan juga akhirnya mengenal cita rasa kopi,

Pemilik Aming Coffee & Segitiga Kopi Berbagi Kisah Bisnis di Talkshow Pontianak Fashion Coffee Week
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MUZAMMILUL ABRORI
Suasana Talkshow Pontianak Fashion Coffee Week 2019, di Gedung UMKM kota Pontianak, Sabtu (16/11/2019) sore.   

Pemilik Aming Coffee & Segitiga Kopi Berbagi Kisah Bisnis di Talkshow Pontianak Fashion Coffee Week

PONTIANAK - Sejumlah penggiat kopi hadiri Pontianak Fashion Coffee Week 2019 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pontianak, bersama Dewan Kerajinan Nasional kota Pontianak, di Gedung UMKM kota Pontianak, Sabtu (16/11) sore.

Dan juga, tampak sekitar 30 brand kopi yang ada di Kalimantan Barat, berkumpul pada acara ini, menunjukkan olahan kopi mereka.

Tak hanya itu, dalam rangkaian acara Pontianak Fashion Coffee Week 2019 ini juga terdapat Talkshow yang membahas tentang, bisnis kopi Tradisional dan bisnis kopi modern atau kekinian.

Dalam Talkshow tersebut, dihadirkan lima orang narasumber penggiat bisnis kopi, yang saling berbeda latar belakangnya, diantaranya Limin pemilik Aming Coffee, Dimas pemilik Segitiga Kopi, Iwan pemilik Kojal atau seorang Petani Kopi, kemudian Restu paham tentang Roasting Kopi,  serta ada Trian selaku yang mengerti packing serta izin peredaran kopi.

Jelang Pertandingan Daud Yordan Melawan Michael Mokoena, Ini Analisa Pengamat Tinju Kalbar Sugianto

VIDEO: Polsek Lumar Monitoring Tahapan Pilkades Serentak

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut, pemilik Aming Coffee, yakni Limin, atau yang biasa dikenal dengan nama aming, bercerita mengenai bisnis kopi dari sisi tradisional.

Limin mengatakan, sebelum ia membuka bidnis kopi, ia sudah mengenal kopi terlebih dahulu dari bapaknya yang sudah memiliki usaha bubuk kopi pada tahun 70an.

"Bapak saya sekitar tahun 70an itu sudah usaha bubuk kopi. Jadi dulu itu semua serba tradisional, bapak saya juga menggoreng sendiri kopinya, secara manual, menggunakan drum yang dilubangi seperti itulah, dengan dibakar menggunakan kayu bakar, diputer-puter seperti itu. Nah itu pada tahun 70an mereka mulainya," katanya.

Namun dikatakannya, pada saat itu warung-warung tradisional lambat laun tergeser oleh warung-warung modern, sehingga menyebabkan usaha yang dimiliki bapaknya juga ikut menurun hasilnya.

VIDEO: Polisi Tembak Kaki Pelaku Pencuri Motor Scoopy

"Saat-saat bisnisnya surut, saya juga sebenarnya sudah tidak tertarik dibidang kopi lagi. Saya kerja diperusahaan lising. Dan setelah beberapa tahun saya kerja, pikir-pikir hasilnya juga tidak cukup. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri, usaha warung kopi," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Muzammilul Abrori
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved