Keluh Kesah Pembuat Gula Aren di Desa Semabi

Pembuat Gula Aren Dani di Desa Semabi berterima kasih atas perhatian Disperindagkop dan UKM serta PKK Kabupaten Sekadau

Keluh Kesah Pembuat Gula Aren di Desa Semabi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MARPINA SINDIKA WULANDARI
Pembuat Gula Aren di Desa Semabi Dani 

Keluh Kesah Pembuat Gula Aren di Desa Semabi

SEKADAU - Pembuat Gula Aren Dani di Desa Semabi berterima kasih atas perhatian Disperindagkop dan UKM serta PKK Kabupaten Sekadau terhadap nasib para pembuat gula aren di Desa Semabi Kecamatan Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau, Rabu (23/10/2019).

Diketahui pada Rabu (23/10) Istri Bupati dan Istri Wakil Bupati Sekadau beserta Disperindagkop dan UKM meninjau langsung lokasi pembuatan gula aren di Desa Semabi.

Atas kunjungan tersebut Dani yang merupakan satu diantara pembuat gula aren mengaku sangat bersyukur. Ia pun berharap PKK Kabupaten Sekadau dapat membantu pembuat gula aren dalam proses pemasaran.

Hal ini dikarenakan sejak beberapa tahun yang lalu, pembuat gula aren selalu terkendala oleh pemasaran yang lambat. Sehingga gula aren yang sudah diproduksi menumpuk, baik di Bundes maupun di rumah pembuat gula aren sendiri.

Baca: Istri Bupati dan Istri Wakil Bupati Sekadau Kunjungi Pembuat Gula Aren di Desa Semabi

Baca: Pembuat Gula Aren Berharap Adanya Bantuan dalam Pemasaran Produk

Akibatnya pembuat gula aren tidak hanya rugi waktu tetapi juga terhadap hasil produksi yang tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah dan akhirnya rusak begitu saja.

" Karena sekarang ini Bumdes yang menangani, tapi masih saja gula aren tersebut menumpuk, di tempat pembuatannya saja yang menumpuk sampai 70 kg gula aren, belum laku terjual. Jadi kami membutuhkan solusinya," ujar Dani.

Sedangkan untuk permasalahan kemasan gula aren. Dani pun mengharapkan agar dapat terselesaikan, sebab sejauh ini para pembuat gula aren hanya terfokus pada proses produksi. Dan mempercayakan sepenuhnya kepada Bundes.

Disampaikan itu Dani menyebut jika dalam proses produksi yang memakan waktu cukup lama, dan belum dapat dipastikan apakah akan segera mendapatkan hasil. Maka kebutuhan hidup pembuat aren tentu saja tidak akan tercukupi. Sedangkan mereka hanya terfokus pada pembuatan gula.

"Kami ingin dari Bumdes dalam mengambil gula aren yang kami buat secara cepat sehingga tidak menumpuk karena kami ingin dari pekerjaan kami sebagai pembuatan gula aren ini menghasilkan uang. Contoh saja kita kerja dalam membuat gula aren ini yang menyita waktu satu minggu tentunya kan harus ada hasil yang didapatkan, ini kenyataan nya tidak ada," tambahnya dengan nada kecewa.

Meski begitu Dani tetap menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Kabupaten Sekadau yang mau kembali memperhatikan keadaan pembuat gula aren di Desa Semabi itu.

Ia pun berharap Pemkab Sekadau kali ini dapat dengan serius membangkitkan kembali produksi gula aren di Desa Semabi. Dan mau mendengarkan aspirasi mereka. Sehingga mereka tidak hanya harus mengikuti program yang belum tentu menguntungkan bagi mereka.

"Contoh dari 5 orang tersebut yang pandai membuat gula aren hanya 2 orang dan 3 orang tersebut tidak bisa, terus hasilnya di bagi rata. Itu yang kita tidak mau. Peraturan dari pemerintah itu yang kami tidak mau, sehingga semua nya sama-sama ngotot dan akhir nya pemerintah batal dalam hal membantu pembuat gula aren ini. Harapan kami semoga kedepan dengan ada nya dukungan pemerintah maka pembuatan gula aren ini lancar," tutup Dani.

Penulis: Marpina Sindika Wulandari
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved