Misa Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional, Tebar Kasih Kerahiman Ilahi Allah

Acara dimulai pada pukul 16.00 WIB yang dimulai dengan Perarakan Parade kelompok Kerahiman Ilahi dari perwakilan masing-masing Keuskupan

Misa Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional, Tebar Kasih Kerahiman Ilahi Allah
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto bersama usai Misa Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional. 

Misa Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional, Tebar Kasih Kerahiman Ilahi Allah

Citizen Reporter
Komsos Keuskupan Agung Pontianak
Samuel

SINGKAWANG - Acara dimulai pada pukul 16.00 WIB yang dimulai dengan Perarakan Parade kelompok Kerahiman Ilahi dari perwakilan masing-masing Keuskupan seluruh Indonesia.

Rangkaian pembukaan misa ini dihiasi dengan tarian 6 cilik yang berbusana Tionghoa dan Melayu sebagai tarian pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional, sembari diikuti oleh kurang lebih 60-an Imam dan Mgr. Agustinus Agus sebagai Konselebran Utama.

Dalam kesempatan itu dihadiri pula Mgr. Anicetus Sinaga, OFMCap (Emeritus KA Medan), Mgr. Pius Riana Prabdi (Uskup Ketapang) dan Uskup Agung Kuching Most Rev. Simon Poh Hoon Seng beserta 60an imam yang mendampingi Mgr. Agustinus Agus sebagai konselebran utama.

Baca: Keuskupan Agung Kota Pontianak Jadi Tuan Rumah Kongres Nasional KKKII ke-3

Baca: VIDEO: Pembukaan Keuskupan Agung Kota Pontianak Tuan Rumah Kongres Nasional KKKII ke-3

Baca: Uskup Keuskupan Sanggau Buka Kegiatan BKSN dan Pesparani 2019 Kabupaten Sekadau

Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi Nasional yang ke tiga di Keuskupan Agung Pontianak ini berjalan dengan hikmat dan lancar. Dalam pembukaan Kongres Nasional ini, Mgr. Agus mengatakan “ Kita tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat spritualitas.

Ada orang kaya tapi dengan jawabannya semena-mena korupsi dan berakhir di dalam sel. Mereka yang masuk dalam sel atas penjara, kebanyakan justru bukan mereka yang miskin. Tapi akibat ketidakpuasan apa yang sudah dimiliki,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Mgr. Agus juga menceritakan perjalanannya menuju Tapen salah satu stasi di yang ada di Paroki Bengkayang.

“Saya pernah mengunjungi sebuah stasi, nama tempatnya adalah Desa Tapen, disana ada ketua umatnya menemui saya untuk mendoakan anaknya yang sedang sakit. Kemudian setelah saya lihat, sungguh menyentuh hati- anaknya yang kedua itu, lemah dan tak berdaya. Dengan kata lain anak itu mengalami cacat dari lahir. Di lain sisi saya salut dengan Bapak itu, dan saya yakin Tuhan menitipkan itu kepada keluarga Ketua umat itu, karena Tuhan tahu bahwa ia mampu merawat dan menjaganya,” kata Mgr. Agus.

“Apa yang mau saya sampaikan? Kadang kita sudah menerima semua kebaikan Tuhan itu, tapi kadang tidak banyak yang menyadari itu dan kembali bersyukur dengan Tuhan. Salah satu kunci kita bahagia yaitu dengan bersyukur. Hanya dengan bersyukur hidup kita akan dilegakan,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved