Citizen Reporter

Dialog Kebangsaan, Dosen FUAD IAIN Jelaskan Munculkan Sifat Radikal pada Seseorang

Sehingga harus waspada dan mahasiswa IAIN Pontianak maupun yang lainnya jangan sampai terkena virus berfikir radikal.

Dialog Kebangsaan, Dosen FUAD IAIN Jelaskan Munculkan Sifat Radikal pada Seseorang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
¬†Ustadz Wajidi memberikan materi pada seminar kebangsaan.¬† 

Citizen Reporter
Mahasiswa IAIN Pontianak, Anang Bustomi

PONTIANAK -Kampus IAIN Pontianak mengadakan kegiatan Silaturahmi dan  Dialog Kebangsaan Lintas Generasi,  di Aula Masjid Syaikh Abdurani Mahmud al-Yamani, Kamis (10/10/2019).

Pada kegiatan tersebut diikut sertakan sederet narasumber diantaranya Gubernur Kalbar, Kapolda Kalbar, Pangdam XII Tanjungpura dan beberapa narasumber lainnya termasuk Ust. Wajidi Sayadi yang merupakan dosen FUAD IAIN Pontianak.

Dalam penyampaiannya, Wajidi   menceritakan pengalaman pribadi memgenai fenomena aksi radikalisme yang bermuara pada sebuah kekerasan dan dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan NKRI.

Baca: Selesaikan Program S1 di UPB Pontianak, Wilda Octaviana Situngkir Angkatan 2013

Baca: Wiranto Ditusuk di Banten, Pengamat: Tangkap Aktor Intelektual

Ia menjelaskan bahwa Radikalisme itu bukan lagi sebagai sebuah isu dan pemahaman akan tetapi sudah menjadi sebuah gerakan yang terorganisir.

Sehingga  harus waspada dan mahasiswa IAIN Pontianak maupun yang lainnya jangan sampai terkena virus berfikir radikal.

Beberapa ciri orang yang sudah mulai terkena virus radikal diantaranya intoleran (tidak mau bertoleransi),  buta terhadap satu golongan, sering menyendiri dan tak mau bergaul dengan masyarakat.

Selain itu, kesalahan dalam memahami ilmu agama juga menjadi faktor internal dari diri seseorang hingga mudah terpengaruh dan terkena virus radikal.

Ia menegaskan bahwa dalam memahami agama, setidaknya ada 4 aspek yang mesti di dalami diantaranya ialah teologi (kepercayaan), syariat, akhlaq dan mahabbah (cinta)

Kebanyakan orang yg terkena paham radikal itu memahami agama hanya pada teologi dan syariat saja.

Sehingga apa yg berbeda dari keyakinan dan syariat yang selama ini ia pelajari dan terapkan maka dengan mudah sekali menyalahkan, membid'ahkan, bahkan mengkafirkan. Itu karena memahami agama sangat dangkal

Alangkah baiknya jika beragama diikut sertakan dengan akhlak dan cinta. Dengan akhlak seseorang menjadi bijaksana dan sangat bertoleransi terhadap urusan keyakinan beragama..

Sedangkan dengan cinta  akan tumbuh saling mengasihi menyayangi dan melindungi satu sama lain, sehingga tidak ada perdebatan perpecahan dan perseteruan.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved