Kepala BPSDM: ASN Harus Miliki Nilai dan Jiwa Melayani Masyarakat

Ia mengatakan secara teoritis makna atau arti dari aparat birokrasi pemerintahan adalah civil servant, yang maknanya adalah pelayan masyarakat.

Kepala BPSDM: ASN Harus Miliki Nilai dan Jiwa Melayani Masyarakat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Foto bersama usai pembukaan acara Pelatihan Revolusi Mental dan Pelatihan Kehumasan di Aula BPSDM Kalbar , Senin (7/10/2019), 

Citizen Reporter
Humas Pemprov Kalbar, Rinto

PONTIANAK -Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kalimantan Barat, Drs Alfian mengatakan peran Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan tindakan konkrit yang perlu dilakukan supaya reformasi birokrasi berhasil adalah perlu melakukan perubahan karakter pegawai ASN.

Hal itu perlu dilakukan agar para ASN memiliki nilai dan jiwa melayani masyarakat serta memiliki kompetensi yang diperlukan untuk membawa Indonesia memasuki era globalisasi.

Ia mengatakan secara teoritis makna atau arti dari aparat birokrasi pemerintahan adalah civil servant, yang maknanya adalah pelayan masyarakat.

"Kualitas pelayanan publik yang jauh dari harapan disebabkan oleh mentalitas aparat birokrasi pemerintahan yang justru senang dilayani bukan melayani yang harus dirubah," ujar Kepala BPSDM, dalam sambutan yang disampaikan Sekretaris BPSDM Kalbar Pitter Bonis, saat membuka Pelatihan Revolusi Mental dan Pelatihan Kehumasan di Aula BPSDM Kalbar , Senin (7/10/2019),

Dikatakannya, Mindset, sikap dan perilaku sebagai penguasa inilah yang masih sering ada dalam diri para ASN, dan yang sering membuat para pegawai ASN terperangkap dalam perilaku yang tidak benar.

Baca: Guru SMK SMTI Pontianak Mewakili Kalbar Menjadi Finalis Lomba Keahlian Guru Tingkat Nasional

Baca: FGD Penanganan Karhutla dan Solusi, Kapolda: Maksimal Pembukaan Lahan 2 Hektare per KK

Para ASN juga harus dilengkapi persepektif multi cultural dan kecakapan mengelola keragaman, memiliki perspektif whole of government, cara memahami dan mencari solusi terhadap masalah berbasis pada pandangan yang koheran dari kepentingan pemerintah secara keseluruhan.

"ASN hendaknya tidak lagi mempunyai perspektif sektoral yang sempit, inward looking, dan penanaman loyalitas dan kepatuhan yang berlebihan pada atasan, karena hal ini tidak lagi relevan dengan kebutuhan untuk menyiapkan world class civil service," jelasnya.

Satu hal yang menjadi peringatan bagi ASN yaitu tolong menolong harus dalam bingkai positif untuk membangun negeri ini.

Sehingga bukan dalam arti sebaliknya, seperti tolong menolong dalam kejahatan dan tindak anarkis. Dalam konteks penerapan dilingkungan birokrasi nilai gotong royong dapat dilakukan melalui koordinasi harmonis antar instansi dan menghilangkan ego sektoral.

Halaman
123
Penulis: Anggita Putri
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved