Diskusi Tata Ruang IMPI Kalimantan: Menuju Destana Sungai Asam

Diskusi pertama oleh narasumber pertama, Sumardi menjelaskan bahwa saat ini kebakaran lahan terjadi tanpa diketahui penyebabnya.

Diskusi Tata Ruang IMPI Kalimantan: Menuju Destana Sungai Asam
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Diskusi yang menghadirkan pemateri Dr. Ely Nurhidayati, ST, MT selaku dosen Perencanaan Wilayah dan Kota UNTAN dan Sumardi selaku Kepala Desa Sungai Asam bertempat di salah satu rumah warga Rt 5 Rw 07, Minggu (22/09). 

Citizen Reporter
IMPI Korwil Kalimantan dan HIMAP PWK UNTAN
Doni/Sekar

Diskusi Tata Ruang IMPI Kalimantan: Menuju Destana Sungai Asam

KUBU RAYA- Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia (IMPI) Koordinator Wilayah (Korwil) Kalimantan dan HIMAP PWK UNTAN mengadakan kegiatan diskusi tata ruang mengusung tema "Menuju Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kampung Sumber Mulyo Desa Sungai Asam Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya".

Diskusi yang menghadirkan pemateri Dr. Ely Nurhidayati, ST, MT selaku dosen Perencanaan Wilayah dan Kota UNTAN dan Sumardi selaku Kepala Desa Sungai Asam bertempat di salah satu rumah warga Rt 5 Rw 07, Minggu (22/09).

Acara diskusi ini turut dihadiri oleh warga masyarakat di Kampung Sumber Mulyo Desa Sungai Asam, perwakilan PKK Desa Sungai Asam (Nasimah), kepala Rt 5 Rw 7 Kampung Sumber Mulyo (Nadori), serta mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

Baca: Bupati Sambas Tinjau Galeri Destana BPBD Kabupaten Sambas 

Baca: Rawan Bencana, BPBD Landak Sosialisasikan Pengembangan Destana di Jelimpo

Acara dimulai pukul 09.30 hingga 12.00 WIB dengan pembukaan oleh Ketua IMPI Korwil Kalimantan Iman Sumantri dan Ketua HIMAP PWK UNTAN Hukma Zulfinanda.

Dalam sambutannya, Iman mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan diskusi tata ruang yang rutin diselenggarakan. Akan tetapi kali ini, kolaborasi antara HIMAP PWK UNTAN dan IMPI Korwil Kalimantan.

Adapun jarak tempuh perjalanan yang diperlukan untuk menuju lokasi acara di Rt 5 Kampung Sumber Mulyo sekitar satu jam dari kampus UNTAN.

“Adapun latar belakang kami mengadakan acara ini adalah informasi dari masyarakat bahwa di kampung ini terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain itu, antusiasme warga setempat dan mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan tentang desa tangguh bencana mendorong panitia untuk mengadakan acara ini sampai terlaksana dengan lancar” katanya.

Sedangkan Hukma mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa, masyarakat, dan pihak-pihak yang telah berpartisipasi meluangkan waktunya untuk menghadiri acara Diskusi Tana Ruang IMPI Kalimantan dan HIMAP PWK UNTAN.

“Semoga acara ini kita dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan memberikan sumbangsih bagi warga masyarakat terkait Desa Tangguh Bencana”, katanya.

Diskusi pertama oleh narasumber pertama, Sumardi menjelaskan bahwa saat ini kebakaran lahan terjadi tanpa diketahui penyebabnya.

Padahal warga masyarakat Rt 5 telah bersepakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, sebab hasil perkebunan utama kami adalah nanas, sedang nanas tidak cocok dengan kondisi tanah yang telah terbakar.

Selain itu, “Terdapat beberapa sumur yang dibangun atas bantuan pemerintah hanya satu yang dapat digunakan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan untuk ke depannya setiap pekerjaan atas bantuan pemerintah dibangun dengan baik dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat”, katanya.

Selanjutnya paparan oleh narasumber kedua, Dr. Ely menjelaskan bahwa sebelum menuju Desa Tangguh Bencana (Destana) diawali oleh kajian penilaian kerentanan terhadap bencana dahulu, misalnya dalam konteks saat ini adalah bencana karhutla.

“Menuju Destana, jika telah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana. Kegiatannya meliputi penyusunan peta dan rencana desa, pembentukan relawan desa, pelatihan masyarakat, dan penyusunan legislasi desa. Selain itu Desa Tangguh Bencana juga mengupayakan kegiatan mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi bencana. Serta tak kalah penting konsistensi antara perencanaan yang telah disusun dan pelaksanaan di lapangan, apabila terjadi pelanggaran tentunya semua warga harus mentaati konsekuensinya” katanya.

Sementara itu Ketua RT 5, Nadori menambahkan bahwa Kampung Sumber Mulyo telah menyepakati dengan warga khusus RT 5 bahwa jika ada yang membakar lahan maka akan dikenakan sanksi.

Saat ini, kebakaran yang terjadi melanda lahan warga, tidak diketahui penyebabnya.

Menurutnya “Desa Sungai Asam harus membuat aturan legislasi internal desa untuk ditaati oleh warga masyarakat yang memiliki lahan, juga oleh warga luar kampung yang datang untuk memancing. Hal ini senada dengan Dr. Ely bahwa aturan desa harus segera dibuat terkait pencegahan karhutla dan terdapat sanksi berupa denda uang” katanya.

Acara ditutup dengan makan siang berasama yang telah disiapkan oleh warga masyarakat dan mahasiswa PWK UNTAN. (*)

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved