Warga Dukung Pembangunan Turap Parit Tokaya Meski Rumah Dibongkar
Pembahasan bersama antar warga dan Pemkot Pontianak berlangsung cukup lama, bahkan menurut mereka sejak empat lima tahun lalu.
Penulis: Syahroni | Editor: Maudy Asri Gita Utami
Warga Dukung Pembangunan Turap Parit Tokaya Meski Rumah Dibongkar
PONTIANAK - Puluhan rumah masyarakat berdiri diatas saluran Parit Tokaya, Kelurahan Benua Melayu Darat (BMD), adanya rumah warga ini otomatis memperkecil saluran primer yang ada.
Bahkan menurut warga setempat bercerita, saluran tersebut luasnya sekitar 12 meter. Tapi dengan adanya rumah yang berdiri diatasnya sehingga membuat saluran mengecil hingga dua meteran.
Pembahasan bersama antar warga dan Pemkot Pontianak berlangsung cukup lama, bahkan menurut mereka sejak empat lima tahun lalu sudah dibicarakan mengenai pembangunan turap.
Baca: Puluhan Rumah Dibongkar Saat Pemkot Lakukan Pembangunan Parit Tokaya
Baca: Bangun Jalan Paralel Parit Tokaya, Edi : Akan Jadikan Lokasi Pusat Kuliner Baru Kota Pontianak
Sebagai warga, mereka sadar telah membangun diatas fasilitas umum atau saluran yang seharusnya tidak boleh berdiri bangunan. Namun kondisi lahan yang tidak ada dan keluarga bertambah memaksa mereka harus melebarkan rumah hingga diatas saluran.
Beberapa rumah bahkan lebih luat diatas saluran dibandingkan yang ada didaratannya, sehingga mau tidak mau mereka harus membongkar bangunan sendiri karena Pemkot sudah melakukan pembangunan.
Menurut Sekretaris RT 01 RW 24, Kelurahan Benua Melayu Darat (BMD), Sahari A Kadir (66) menjelaskan pembangunan tahap pertama ini ada 17 rumah yang terdampak dan harus dibongkar. Panjang saluran yang dipasang turap kisaran 150 meter dari Jalan Gajahmada, sementara turapnya dibangun untuk kedua sisinya.
"Pada dasarnya kami mendukung, saat membongkar bangunan kami mendaptkan tali asih, bukan ganti rugi. Ini lahan memang punya pemerintah dan masyarakat mendirikan diatas saluran," ucap Sahari saat diwawancarai Tribun Pontianak dilokasi pembangunan turap, Senin (23/9/2019).
Lanjut dijelaskannya tali asih diberikan untuk membayar bangunan saja atau upah untuk membongkar bangunan.
"Setiap warga mendapatkan beda-beda tali asih, ada yang dapat Rp27 juta, ada yang dapat Rp40 juta dan ada juga yang dapat Rp12 juta sesuai dengan kondisi dan luas bangunan," jelas Sahari.
Ia juga mengucapkan terimakasih pada pemerintah karena telah memberikan tali asih dan mengijinkan tetap tinggal dilokasi bagi warga yang rumahnya masih empat meteran keatas.
"Rumahtu kalau masih empat meter keatas, kan maseh layak ditinggali. Tapi kame tetap bangun dua tingkat, kecuali sisa tige meter kan tidak layak dan itu bongkar dan teserah pemerintah mau bayarnye seperti ape dan ditawarkan ke rusun," tambahnya.
Setidaknya ada dua rumah yang habis karena semua badan rumahnya berada diatas saluran Parit Tokaya.
Masyarakat disebut Sahari harus mendukung pembangunan pemerintah, karena itu untuk warga sekitar juga. Dengan adanya bangunan diatas saluran iapun paham bahwa membuat kumuh tapi keadaan terpaksa bagi masyarakat.
"Kalau udah pasang turap inikan rapi dan berseh, kami dukung penggunan turap ini karena pemerintah juga peduli dengan memberikan tali asih," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/proses-pembangunan-turap-parit-tokaya-oleh-pemkot-pontianak-dhsa.jpg)