Siap-siap, Bulan Purnama Langka 'Harvest Moon' Malam Ini di Langit Indonesia

Bagi mereka yang berada di zona waktu Timur, mereka masih bisa melihat bulan tetapi itu akan terlihat setelah tengah malam pada hari Sabtu.

Editor: Dhita Mutiasari
GETTY IMAGES
Siap-siap, Bulan Purnama Langka 'Harvest Moon' Malam Ini di Langit Indonesia. 

Namun, Bulan purnama musim gugur ini memang memiliki karakteristik khusus, terkait dengan waktu terbitnya: Bulan tampak bundar penuh ketika dekat cakrawala setelah matahari terbenam, untuk beberapa malam berturut-turut.

Rata-rata, Bulan akan muncul di langit sekitar 50 menit setelah matahari terbenam, setiap hari.

Akan tetapi, ketika Bulan purnama terjadi dekat dengan ekuinoks musim gugur, Bulan akan terbit lebih dekat dengan waktu matahari terbenam.

Harvest moon kali ini terbilang langka karena berbarengan dengan micromoon. 

Bersamaan dengan Micromoon

Micromoon, begitu nama fenomena yang terjadi saat ini.

"Micromoon itu nama trivial. Istilah resminya Bulan purnama apogean, yaitu Bulan dalam fase purnama (oposisi Bulan-Matahari atau istiqbal) yang berdekatan dengan saat Bulan menempati titik apogee (titik terjauh terhadap Bumi dalam orbit ellipsnya)," tutur astronom amatir Marufin Sudibyo kepada Kompas.com, Jumat (13/9/2019).

Dilansir dari Kompas.com, Marufin menyebutkan, meski terlihat mulai malam ini di beberapa wilayah bumi, Bulan purnama apogean pada September 2019 sebenarnya baru akan terjadi pada Sabtu, 14 September 2019.

"Pada saat itu Bulan mencapai purnama (fase 99,8 persen) dengan jarak Bumi-Bulan 406.060 km.

Posisi apogee Bulan sendiri sudah dicapai 24 jam sebelumnya yaitu sejauh 406.377 km," tuturnya.

Semua ini terjadi, lanjut Marufin, karena Bulan beredar mengelilingi Bumi dengan orbit ellips.

Jarak rata-ratanya ke Bumi memang 384.400 km. Namun orbit ini punya perigee (titik terdekat dengan Bumi) 356.000 km dan apogee (titik terjauh dengan Bumi) 406.000 km.

"Bulan mencapai perigee dan apogee-nya di bawah pengaruh periode siderisnya yang lamanya 27,33 hari. Sementara fase-fase Bulan dipengaruhi oleh periode sinodisnya yang besarnya rata-rata 29,5 hari.

Kelipatan persekutuan dari kedua nilai periode revolusi Bulan tersebut adalah 12 atau 13 bulan. Maka setiap 12 atau 13 bulan sekali peristiwa Bulan apogean terjadi," jelasnya.

Bisa dilihat tanpa alat bantu Fenomena micromoon pada malam ini bisa dilihat dengan mata telanjang, tanpa alat bantu apapun. "Secara kasatmata tidak terbedakan dengan Bulan purnama biasa.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved