Mengintip Prostitusi Terselubung di Pontianak hingga Pria Hidung Belang jadi Korban Pemerasan PSK

Kawasan Ambalat yang terletak di Jalan Budi Karya Pontianak kerap menjadi sarang para pekerja seks komersial (PSK) melancarkan aksinya.

Penulis: Rizky Zulham | Editor: Rizky Zulham
NET
ILUSTRASI 

Mengintip Prostitusi Terselubung di Pontianak hingga Pria Hidung Belang jadi Korban Pemerasan PSK

PONTIANAK - Praktik prostitusi terselebung dunia malam di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) kembali mencuat.

Baru-baru ini, kawasan Ambalat yang terletak di Jalan Budi Karya Pontianak kerap menjadi sarang para pekerja seks komersial (PSK) melancarkan aksinya.

Bahkan, ada PSK yang sengaja berkomplot dengan beberapa orang dengan modus menawarkan jasa layanan seks untuk memeras para pria hidung belang.

Faktanya, kejadian ini sudah kerap kali terjadi dan sudah ada beberapa pria hidung belang yang menjadi korban.

Kasus ini mulai terkuak ke publik berawal saat Anggota Jatanras Satuan Reskrim Polresta Pontianak berhasil meringkus lima tersangka komplotan pemerasan dengan kekerasan di Jalan Pahlawan, Pontianak Selatan, Rabu (28/8/2019).

Baca: EKSKLUSIF - Ayam Kampus Patok Tarif Bercinta Fantastis! Kelabui Pacar dan Ogah Jadi Simpanan Om-om

Satu orang tersangka terpaksa dibuat pincang terkena tembakan lantaran mencoba kabur saat akan diringkus petugas.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak AKP Rully Robinson Polii menjelaskan, sebenarnya ada delapan tersangka dari dalam kasus ini.

Namun hanya lima yang berhasil diamankan, sedangkan tiga tersangka lainnya masih dalam penyelidikan dan ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Awalnya kita mengamankan empat tersangka dulu, kemudian dari hasil pengembangan kita kembali mengamankan satu orang lagi di hari yang sama,” kata Kasat.

Dari lima tersangka yang berhasil ditangkap satu di antaranya adalah perempuan berinisial AM alias MN (28), sementara empat laki laki berinisial EF alias A, HM, AR, dan JM.

Kasat menjelaskan, modus seperti dilakukan kompolotan ini sudah sering terjadi namun kali ini ketiban naas.

Awalnya, dini hari itu korban atas nama RY bertemu dengan beberapa tersangka dengan umpan perempuan, AM, di Jalan Budi Karya (Ambalat), Pontianak Selatan.

Kemudian mereka berjanji ketemu lagi di Gang Mentok Jalan Pahlawan (dekat hotel).

Saat korban berada di depan hotel tersebut, kemudian didatangi delapan orang tersangka langsung melakukan pengancaman.

“Delapan tersangka meminta uang dengan cara paksa kepada korban yang apabila tidak memberi uang maka akan dianiaya,” terang Kasat.

Atas kejadian tersebut korban mengalami kerugian sebesar Rp 700 ribu, uang Ringgit Malaysia senilai Rp 2 juta, dan ATM BNI. Seluruh total kerugian korban sebesar Rp 2.700.000 ribu.

“Para tersangka juga melakukan kekerasan terhadap korban serta memaksanya untuk mengambil uang yang ada di ATM."

"Atas kejadian tersebut korban melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Pontianak guna penyelidikaan,” ujar AKP Rully.

Dini hari itu juga Tim Jatanras Polresta Pontianak melakukan serangkaian penyelidikan di lokasi kejadian terhadap para tersangka.

Hingga didapatkanlah empat orang yang masing-masing satu perempuan dan tiga laki laki.

Selanjutnya mereka beserta barang bukti dibawa ke Mapolresta guna untuk pemeriksaan lebih lanjut

Saat pengembangan kasusnya, terdapat enam nama tersangka lagi. Satu di antaranya adalah JM alias U (39).

Ia ditangkap di kawasan Pontianak Timur pada Rabu (28/8) sekitar pukul 00:15 WIB.

Saat penyergapan itulah JM mencoba melawan petugas dan hendak melarikan diri.

"Saat hendak ditangkap, tersangka sempat melawan petugas dan melarikan diri."

"Sehingga anggota kita terpaksa melumpuhkan tersangka. Tapi sebelumnya kita sudah berikan tembakan peringatan tetapi tidak digubris,” tukas Kasat.

Dari tangan tersangka, polisi juga berhasil mengamankan barang bukti berupa, mata uang asing 6 lembar, dan satu buah dompet.

Hingga kini polisi masih memburu tiga tersangka lainnya yang berstatus DPO.

TARIF Ayam Kampus di Prostitusi Online, Lokasi Bercinta Favorit hingga Disebut Berbeda dari PSK

TARIF Ayam Kampus di Prostitusi Online, Lokasi Bercinta Favorit hingga Disebut Berbeda dari PSK
TARIF Ayam Kampus di Prostitusi Online, Lokasi Bercinta Favorit hingga Disebut Berbeda dari PSK (NET/Ilustrasi)

Palembang sedang marak dengan bisnis gelap hubungan intim 'ayam kampus' bertarif tertinggi Rp 10 juta. 

'Trik bisnis' hubungan intim 'ayam kampus' di Palembang ini ternyata berbeda dibanding Pekerja Seks Komersial / PSK

Para orangtua yang memiliki anak gadis dan sedang berkuliah di kota Palembang, layak mewaspadai agar anak-anak gadis kesayangan tidak terjerat hubungan intim gelap ayam kampus ini. Waspadalah!

Fenomena oknum mahasiswi masuk ke dalam dunia prostitusi online alias ayam kampus di kota Palembang memang bukan menjadi hal yang baru.

Oknum mahasiswi ini rela menjajakan cinta demi memenuhi kebutuhan kuliah, kebutuhan sehari-harinya, bahkan gaya hidup.

Berbeda dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) lainnya yang menjajakan diri secara terang-terangan, para ayam kampus ini dalam mencari pelanggan terbilang lebih eksklusif.

Menggunakan berbagai aplikasi sosial media (Sosmed) atau tawaran dari mulut-mulut, dijadikan mencari pelanggannya.

Dalam mencari pelanggan, mereka kini tak sembarangan, lebih memilih-memilih pelanggan yang akan menggunakan jasa kepuasan biologis itu.

Hal itu karena beberapa kasus prostitusi online yang mencuat ke publik, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan ayam kampus

"Kalu saya sih lebih pilih pelanggan, tidak mau dari kalangan mahasiswa atau orang yang kita tidak tahu latar belakangnya," ujar MS (21), salah seorang ayam kampus di perguruan tinggi swasta di Palembang, Selasa (13/8/2019).

MS mengungkapkan, untuk modus yang mereka pakai bisanya memasang foto cantik nan menggoda di beberapa aplikasi sosial media.

Kemudian, biasanya para pelanggan langsung chating dengan si ayam kampus untuk menanyakan bisa "dipakai" atau tidak.

Setelah si ayam mengaku bisa, kemudian komunikasi berlanjut untuk menentukan tarif dan lokasi untuk bercinta.

Kesan eksklusif yang ditawarkan oleh penjaja cinta ayam kampus, membuat mereka enggan sembarangan memilih tempat untuk berkencan.

Jika ada konsumen yang tertarik menggunakan jasa si ayam kampus paling tidak menginginkan ngamar di hotel berbintang tiga.

Dalam setiap kali berkencan ia mematok tarif minikal Rp 1 juta untuk layanan short time dan paling besar Rp 5 juta untuk long time.

"Biasanya kalau saya sih langsung minta DP sama pelanggan kalau memang dia serius. Setelah ditransfer baru langsung ketemuan di lokasi dijanjikan. Jika dapat pelanggan yang sudah mapan biasanya suka kasih lebih. Ya bisa sampai Rp 10 juta," ungkapnya.

Ia menjelaskan, awal mula terjerumus ke dalam dunia hitam tersebut setelah semasa SMA keperawanannya direnggut oleh sang pacar.

Merasa dirinya sudah tak suci lagi, membuat wanita berambut panjang ini memilih terjun ke dunia ayam kampus saat masuk kuliah.

Selain itu, desakan rendahnya faktor ekonomi membuat si ayam kampus lebih memilih jalan pintas dengan menjual diri untuk menambah pundi-pundi uang.

"Kiriman orangtua dari kampung cukup untuk kuliah dan makan. Nah kalau mau biaya nongkrong dan beli barang terpaksa begini," jelasnya.

TY, ayam kampus lainnya di Palembang juga mengaku lebih wanti-wanti dalam cari pelanggan.

Menjajakan diri melalui sosial media, membuat mereka dapat memilah pelanggan yang akan menggunakan jasa seks si ayam kampus.

Jika dirasa si pelanggan aman dan memiliki isi kantong tebal, barulah ia mau diajak bercinta.

"Saya lebih ke eksklusif, nggak mau sembarang pilih pelanggan. Nanti bisa-bisa rupanya kita dijebak. Apalagi sekarang kasus prostitusi online sedang maraknya diungkap," jelasnya.

Dengan gaya eksklusifnya, membuat gadis pemilik tinggi 168 cm ini menerima pelanggan maksimal satu minggu sekali.

Namun jika ia sedang mood atau ingin beli sesuatu, TY bakal langsung meladeni apabila ada pelangggan yang mau menggunakan jasanya.

"Ya tergantung mood juga sih. Tapi kalau mau beli sesuatu saya cari pelanggan," ujarnya.

Diakuinya, menjadi ayam kampus tak banyak orang yang mengetahui terlebih lingkungan keluarga dan pacarnya.

Ia menutup rapat kesehariannya yang kerap menjajakan cinta dengan pria hidung belang melalui sosial media.

Mahasiswi semester lima jurusan kesehatan ini pun mengaku sempat khawatir jika suatu saat ia bakal terkena penyakit.

Tetapi, himpitan ekonomi dan tututan gaya hidup membuatnya terpaksa menggeluti dunia ayam kampus hingga kini.

"Pernah kepikiran takut kena penyakit, cuma ya dibawa happy aja. Mau bagaimana lagi, karena kita memang butuh uang," bebernya.

Pengakuan Pelanggan

Boy, salah seorang pegawai swasta mengaku suka menggunakan jasa ayam kampus dikarenakan lebih profesional, ramah dan berkelas dari PSK lainnya.

Ia mengungkapkan, penilaiannya terhadap layanan ayam kampus bukan hanya soal hubungan intim.

Melainkan, juga soal attitude dan sensasi yang didapatkan dari si ayam kampus.

Dengan pelayanan berbeda diberikan ayam kampus, ia pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan kesempatan kencan dengan ayam kampus.

Namun begitu, hal tersebut bukanlah jadi soal. Baginya kepuasan dan layanan adalah yang paling utama.

"Ayam kampus itu lebih eksklusif dan berkelas, karena tidak sembarangan orang bisa pakai jasanya. Walau harus bayar Rp 2 juta tidak masalah yang penting lebih berkelas dan pelayanan memuaskan," bebernya.

Lain lagi dengan Jo, ia lebih memilih menjadikan ayam kampus sebagai teman bersenang-senang.

Setelah satu-dua kali menggunakan jasanya, pria berambut ikal ini akan melanjutkan hubungannya ke jenjang lebih dekat.

Jika hubungan keduanya semakin akrab, ia mengaku selanjutnya tak perlu lagi mengeluarkan biaya cukup mahal.

Cukup membuka kamar di hotel dan diajak jalan pegawai swasta ini dengan leluasa menggunakan jasa si ayam kampus.

"Awal-awalnya bayar Rp 1 juta, setelah itu kita akrabin. Selanjutnya tinggal suka sama suka aja," jelasnya.

Tampil Biasa Tak Terkesan Glamor dan Menggoda

Para oknum mahasiswi yang nyambi jadi ayam kampus enggan secara terang-terangan membuka jati diri mereka.

Bahkan, pihak keluarga dan sang pacar tak mengetahui jika mereka terjerumus ke dalam dunia prostitusi ayam kampus.

Mereka biasanya berpenampilan biasa saja di lingkungan kuliah, enggan tampil mencolok dengan pakaian glamor dan menggoda.

Untuk pakaian yang digunakan ketika kuliah juga rata-rata tertutup seperti mahasiswa lain pada umumnya.

MS, salah seoerang ayam kampus jurusan ekonomi di kampus swasta Palembang mengaku kalau sepintas orang pasti tidak akan mengetahui bahwa mereka terlibat dunia prostitusi online.

Permainan melalui sosial media, membuat modus ayam kampus cukup sulit terendus oleh orang banyak.

"Ya pintar-pintar kita sembunyikan identitas. Pacar dan keluarga saya tidak tahu kalau saya begini (ayam kampus, red)," ujarnya, Kamis (15/8/2019).

Ia menjelaskan, si ayam kampus biasanya diketahui oleh sesama rekannya dan penikmat jasa saja.

Mereka enggan membuka diri secara terang-terangan dengan profesi tersebut karena berada di lingkungan kampus.

"Ketahuan teman satu kampus ya malulah. Paling cuma beberapa teman yang tahu, tapi mereka nggak bakal bocor. Tahu sama tahu saja," tegas MS.

Ogah Jadi Simpanan

Diakuinya, meski bisa dengan mudah mendapatkan uang menjadi seorang ayam kampus, namun sebagian mahasiswi pelaku bisnis haram ini enggan menjadi simpanan om-om berkantong tebal.

Mereka lebih mengambil aman dengan menjajakan cinta kilatnya ketimbang harus menjadi simpanan pria beristri.

Wanita berambut panjang ini selalu menolak ajakan tersebut. Alasannya, selain beresiko jati dirinya terungkap.

Ia menghindari terjadinya konflik dengan istri sah si om-om.

"Kalau yang ngajak jadiin simpanan banyak, tapi saya nya yang nggak mau. Terlalu beresiko kalau gitu (jadi simpanan, red)," ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahkan ada om-om yang rela memberinya uang hingga Rp 20 juta untuk mengiming-iminginya agar mau jadi simpanan.

"Pokoknya yang dicari itu duit, bukannya status. Kalau jadi simpanan itu terikat," kata MS.

Ada yang Baper Saat Bareng Pelanggan

TY, ayam kampus lainnya juga mengaku kerap kali bercinta terkadang terbawa perasaan alias baper.

Akan tetapi ia mengaku lebih memilih menahan diri. Mahasiswi ini lebih memilih menahan diri ketimbang nantinya hubungan berlanjut hingga menjadi simpanan si pelanggan.

Diakuinya, sulit meninggalkan kehidupan yang serba enak dari penghasilannya sebagai ayam kampus. Ia menjalani profesi ini untuk memenuhi lifestyle dan kebutuhan sehari-hari.

"Imej mahasiswi itu kesannya sensual, intelek dan lebih eksklusif. Jadi banyak yang mau jadikan simpanan. Tapi kalau saya sih ogah, terlalu beresiko," ungkapnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved