Liputan Khusus

Korban Sekolah Terbakar Karhutla Kembali Belajar, 31 Siswa Belajar di Ruang Sempit

Siswa kelas 2 dan kelas 6 digabung menjadi satu. Lantaran sempit, ruangan tak bisa disekat.

Tayang:
Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ya'M Nurul Anshory
Sisa-sisa bangunan SDN 19 Mempawah Timur, Dusun Tekam (Telayar) usai dilanda kebakaran api karhutla, tampak api masih menyala disekitar lokasi, Minggu (18/8/2019) pagi. 

Korban Sekolah Terbakar Karhutla Kembali Belajar, 31 Siswa Belajar di Ruang Sempit

MEMPAWAH - Proses belajar-mengajar 31 siswa di dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali dimulai sejak Senin (26/8/2019) pagi.

Sebanyak 12 siswa SDN 19 Mempawah Timur bersekolah menggunakan gedung PAUD Pelita Ilmu di Dusun Tekam (Telayar), Desa Sejegi, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah.

Sementara 17 siswa SDN 17 Sidai, Ledo, Bengkayang bersekolah di Gedung Serbaguna milik desa.

Proses belajar dan mengajar di SDN 19 Mempawah Timur dilangsungkan di ruangan berukuran sekitar 3x3 meter.

Siswa kelas 2 dan kelas 6 digabung menjadi satu. Lantaran sempit, ruangan tak bisa disekat.

"Kita baru mulai hari ini sebab proses transisi belajar mengajar itu perlu persiapan, seperti memindahkan bangku, memilih lokasi dan membersihkannya tidak bisa dilakukan sekaligus," ujar Kepala SDN 19 Mempawah Timur, Dedi Setiawan kepada Tribun, Selasa (27/8).

Dijelaskan Dedy, sejak Karhutla melanda sekitar bangunan sekolah, kabut asap menjadi kendala proses belajar mengajar di SDN 19 Mempawah Timur. Ditambah lagi, api Karhutla yang merembet dan menghanguskan bangunan SDN 19 Mempawah Timur pada Sabtu (17/8) lalu, sejak itulah proses belajar mengajar sudah libur total.

Baca: 106 Jiwa Warga Terdampak Karhutla di Telayar Mempawah Dapat Bantuan Sembako dan Selimut

Baca: Warga Terdampak Karhutla di Dusun Telayar Mempawah Bahagia Dapat Bantuan Sembako dan Selimut

"Dua pekan sebeleum bangunan sekolah itu terbakar rata dengan tanah proses belajar mengajar memang sudah libur karena kabut asap yang semakin tebal di permukiman penduduk," ujar Dedi Setiawan.

Dia mengatakan, mulai Senin sampai seterusnya proses belajar-mengajar akan diupayakan terus berjalan.

Sebab, sepekan setelah sekolah mereka terbakar siswa diliburkan karena berbagai hal, seperti proses penyelidikan dan persiapan pindah belajar ke bangunan PAUD.

"Pada proses transisi ini, belajar mengajar itu perlu persiapan, seperti memindahkan bangku, memilih lokasi dan membersihkannya tidak bisa dilakukan sekaligus," ujarnya.

Usai kebakaran melanda sekolah kata Dedi, pihaknya tidak bisa langsung pindah belajar, dikarenakan sarana dan prasarana belajar mengajar seperti bangku dan papan tulis masih dicari dan dipersiapkan.

"Kita baru diantar dua keping papan tulis dan delapan belas set bangku sekolah oleh pemerintah pada hari Kamis (22/8) kemarin, jadi karena waktunya sempit makanya Senin baru mulai proses belajar mengajar," jelasnya.

Dedi memastikan saat ini sudah tidak ada lagi kendala dalam proses belajar mengajar, hanya saja para siswa-siswi harus melakukan penyesuaian di tempat belajar mereka yang baru, adapun fasilitas pendukung semuanya sudah ada, tinggal bagaimana proses pelaksanaan nya saja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved