Diduga Gizi Buruk, Kondisi Bocah Asal Sungai Kakap Ini Memperihatinkan
Diusainya yang 8 tahun ini, berat tubuh Ari hanya 8 kilogram. Kedua kakinya sangat kecil, hanya tinggal kulit membalut tulang.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Septi Sabrina
TRIBUNPONTIANAK.CO,ID, KUBU RAYA - Bocah asal Dusun Merpati, RT/ RW 04/07 Desa Sungai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Ariansyah atau Ari (8) kondisinya sangat memperihatinkan. Anak semata wayang pasangan Julianto (30) dan Rahayu (26) ini diduga menderita gizi buruk dan sangat membutuhkan perawatan intensif.
Saat ditemui pada Minggu (25/8) siang, bocah delapan tahun ini hanya terbaring lemah dalam dekapan sang ibu. Sesekali ia menangis ketika melihat sang ibu berbincang dengan orang lain. Di balut kemeja ungu bergaris khas anak-anak, terlihat tubuh Ari begitu kurus dengan perut agak membesar. Diusainya yang 8 tahun ini, berat tubuh Ari hanya 8 kilogram. Bahkan kedua kakinya sangat kecil, hanya tinggal kulit membalut tulang.
Seharusnya, bocah seusianya sudah menempuh pendidikan kelas 3 sekolah dasar. Namun alih-alih ingin mendapatkan pendidikan layak, untuk sekedar berjalan bahkan berbicara layaknya anak normal pun ia tidak bisa.
Baca: Petani Sayuran di Pontianak Utara Mengeluh, Harga Anjlok Sampai Berutang Beli Pupuk
Baca: Tingkatkan Layanan kepada Pelanggan, PLN Gelar Promo Diskon 50% Tambah Daya
Menurut pengakuan sang ibu, dulu Ari lahir dalam kondisi normal dengan berat dua kilogram lebih. Sembari menunjukkan foto anaknya beberapa tahun lalu, terlihat sangat sehat. Berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini.
Masih terus mendekap anaknya, Rahayu menceritakan jika sebelumnya anaknya pernah dibawa ke dokter di puskemas pada usia dua tahun. Berdasarkan analisa dokter anaknya di terkena sakit syaraf.
Dari pengakuan sang ibu juga, saat itu anaknya hanya di periksa saja dan terkesan ada pembiaran dari pihak puskesmas, tanpa memberikan obat serta tindakan khusus terhadap anaknya.
Meskipun sang anak tak dapat berbicara, sesekali hanya terdengar suara lirih dari nafas sengaunya sembari terus menangis di balik dekapan sang ibu.
Rahayu bercerita, awalnya sang anak terkena step (kejang) saat masih berusia tiga bulan, kemudian saat menginjak usia delapan bulan, ia terserang step kembali.
"Sudah dua kali kena sakitnya. Waktu itu panas tinggi anak saya dan sempat muntah berak (Muntaber) juga," kenangnya.
Sehari-hari sang suami hanya pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu, jangankan untuk membawa anaknya berobat, dengan penghasilan ala kadarnya hanya mampu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
"Penghasilan tidak menentu, kurang dari 500 ribu perbulan, kadang pun ada uang lebih di putar lagi untuk modal jualan bensin suami," jelasnya.
Sehari-hari mereka bertiga harus tinggal di rumah beratap daun dengan ukuran 4x6 meter dengan lantai papan tiang cerocok kayu bulat. Ketika hujan deras, mereka harus merasakan rembesan air jatuh menerobos rumahnya bahkan saat angin kencang, sesekali terasa terguncang akan roboh seketika.
Setiap sang anak menangis atau rewel dengan sigap sang ibu memasukkannya kedalam ayunan kain terletak di kamar. Meskipun delapan tahun sang anak harus merasakan rasa sakit seperti ini, Rahayu mengaku pasrah melihat kondisi yang menimpa anaknya tersebut.
Lantaran tidak memiliki biaya dan tak pernah mendapatkan uluran bantuan dari pemerintah maupun pihak terkait, seperti bantuan Program keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan. Kedudukan PKH merupakan bagian dari program-program penanggulangan kemiskinan lainnya serta bantuan kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
"Bantuan apapun tidak pernah saya terima dan di berikan oleh pemerintah maupun pihak lain," terangnya.