Andi: Masa Pembangunan Beta Petinggi Kudo Lewati Tiga Kepemimpinan Kepala Desa

Semoga dengan adanya betang ini bisa menjaga budaya dan adat masyarakat Dayak

Andi: Masa Pembangunan Beta Petinggi Kudo Lewati Tiga Kepemimpinan Kepala Desa
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN
Bupati Sintang, Jarot Winarno secara langsung meresmikan Rumah Betang (Beta Petinggi Kudo) Ketemenggungan Wilayah VIII Sepauk yang berada di Desa Tawang Sari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Sabtu (24/8/2019) siang 

Andi: Masa Pembangunan Beta Petinggi Kudo Lewati Tiga Kepemimpinan Kepala Desa

SINTANG- Bupati Sintang, Jarot Winarno secara langsung meresmikan Rumah Betang (Beta Petinggi Kudo) Ketemenggungan Wilayah VIII Sepauk yang berada di Desa Tawang Sari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Sabtu (24/8/2019) siang. 

Peresmian ditandai dengan pembukaan plang nama Betang Ketemenggungan Wilayah VIII Sepauk, dilanjutkan penandatangan prasasti, dan pembukaan kain penutup tempayan tuak pamali oleh Bupati Sintang, Jarot Winarno

Kepala Desa Tawang Sari, Andi menyampaikan rasa senangnya karena keberadaan betang untuk Ketumenggungan Wilayah VIII yang diberi nama Beta Petinggi Kudo oleh masyarakat Dayak Sekujam ada di Desa Tawang Sari. 

Baca: Pemkab Sintang Gelar Pameran Pembangunan dan Sintang Expo 2019

Baca: Cegah Karhutla, Jarot Minta Warga Desa Tawang Sari Pedomani Perbup Nomor 57

“Pembangunan betang panjang ini cukup lama, mulai 2014 hingga 2019. Melewati tiga masa kepala desa, yakni Elyas Nuning, Hendrianus Rayung dan saya sendiri. Inilah upaya kami untuk menjaga seni budaya yang ada," katanya. 

Oleh karena itu, dirinya mengucapkam terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pembangunan betang panjang ini. Termasuk kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dan Kecamatan. 

Sementara itu, di tempat yang sama Camat Sepauk Cinghan menyampaikan rasa bangga atas perjuangan masyarakat adat Dayak di wilayah Ketumenggungan Wilayah VIII dalam membangun betang panjang ini. 

“Saya berharap kebersamaan suku di desa ini semakin baik. Karena di desa ini ka nada suku Dayak dan Jawa. Keharmonisan itu harus dijaga. Semoga dengan adanya betang ini bisa menjaga budaya dan adat masyarakat Dayak," tutup Andi

Penulis: Wahidin
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved