BMKG Sebut Listrik Padam Massal di Sebagian Pulau Jawa Bukan Dampak Gempa Bumi, Bagaimana Kalbar?

Beberapa hari ini ramai dibicarakan di media sosial bahwa terjadinya pemadaman listrik di berbagai wilayah di sebagian besar Pulau Jawa

BMKG Sebut Listrik Padam Massal di Sebagian Pulau Jawa Bukan Dampak Gempa Bumi, Bagaimana Kalbar?
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kelistrikan di Kalbar 

Rilis BMKG
Biro Hukum dan Organisasi, Bagian Hubungan Masyarakat

BMKG Sebut Listrik Padam Massal di Sebagian Pulau Jawa Bukan Dampak Gempa Bumi, Bagaimana Kalbar?

PONTIANAK - Beberapa hari ini ramai dibicarakan di media sosial bahwa terjadinya pemadaman listrik di berbagai wilayah di sebagian besar Pulau Jawa sejak Minggu pukul 11.45 WIB diakibatkan oleh gempa bumi Banten M 6,9. Menanggapi isu tersebut, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Muhammad Sadly menyatakan dengan tegas bahwa padamnya listrik yang terjadi tidak ada kaitannya dengan peristiwa gempa bumi Banten M 6,9.

“Jika kita perhatikan, waktu terjadinya gempa Banten adalah hari Jumat, 2 Agustus 2019 pukul 19. 03 WIB, sementara pemadaman listrik terjadi pada hari Minggu 4 Agustus 2019 pukul 11.45 WIB, maka rentang waktu kedua kejadian tersebut terpaut cukup lama. Jika padamnya listrik akibat gempa maka listrik padam sudah terjadi sejak Jumat malam setelah pukul 19.03 WIB," ungkap Sadly.

Baca: Desa Sekais Gelar Rapat Pembentukan Panitia HUT RI, Bhabinkamtibmas Sampaikan Imbauan

Baca: Bhabinkamtibmas Polsek Ngabang Jadi Narasumber Pelatihan Linmas di Amboyo Utara

Baca: Satu Hektar Lahan di Mempawah Hulu Terbakar, TNI dan Polri Turun Padamkan Api

Lebih lanjut, Sadly menjelaskan jika memperhatikan peta tingkat guncangan gempa bumi (shake map) gempa Banten, maka dampak guncangan terbesar terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta dalam skala intensitas III-IV MMI.

Skala ini, kata Sadly, berarti getaran gempa dirasakan nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk berlalu, hingga jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

Dampak gempa semacam ini, lanjut Sadly, belum mampu menimbulkan kerusakan pada struktur bangunan yang kuat. Apalagi jarak antara episenter dan lokasi PLTU Suralaya sejauh 211 kilometer sehingga percepatan getaran tanah di Suralaya nilainya sangat kecil dan tidak memungkinkan terjadinya kerusakan.

Menurut press release resmi PT. PLN Persero, Sadly menjelaskan padamnya listrik di wilayah Jakarta disebabkan oleh gangguan pada gas turbin 1 sampai 6 di Suralaya.

Selain itu, gangguan juga terjadi di pembangkit listrik tenaga gas turbin Cilegon. Gangguan ini menyebabkan aliran listrik di Jabodetabek mengalami pemadaman.

Terkait pemadaman listrik lainnya termasuk di wilayah Jawa Barat karena gangguan transmisi sutet 500 kV.

“Berdasarkan press rilis PLN, dapat disimpulkan bahwa padamnya listrik massal di beberapa daerah tidak diakibatkan oleh peristiwa gempa bumi,” tutup Sadly.

Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved