PMII Singkawang Gelar Sekolah Aswaja, Libatkan Generasi Millenial

PC PMII Kota Singkawang, menggelar Sekolah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di Aula Dinas Pendidikan Kota Singkawang

PMII Singkawang Gelar Sekolah Aswaja, Libatkan Generasi Millenial
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto bersama Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Singkawang 

PMII Singkawang Gelar Sekolah Aswaja, Libatkan Generasi Millenial

SINGKAWANG - Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Singkawang, menggelar Sekolah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di Aula Dinas Pendidikan Kota Singkawang, Minggu (21/7/2019) pagi.

Kegiatan yang mengusung tema "Membumikan Tradisi, Menumbuhkan Generasi Cinta Agama dan NKRI" ini melibatkan puluhan siswa SMA/sederajat, remaja masjid dan santri dari Rumah Tahfidz.

Sekolah Aswaja menyajikan lima materi kepada peserta, yaitu Islam Nusantara, Sejarah dan Perkembangan Aswaja, Aswaja dalam Bidang Fiqih, Aswaja dalam Bidang Tasawuf, serta Aswaja sebagai Manhajul Fikr dan Manhajul Harokah.

Ketua PC PMII Kota Singkawang, Irma Suryani, dalam sambutannya mengatakan, Sekolah Aswaja merupakan bukti bahwa PMII tidak meninggalkan prinsip Ahlussunah Wal Jamaah yang dianut Nahdlatul Ulama.

"Cara pandang ber-Islam yang tidak anti budaya dan tradisi yang disebut Islam Nusantara. Dengan pendidikan Sekolah Aswaja ini, akan menambah landasan penguatan dalam berpikir dan bertindak. Aswaja tidak hanya dimaknai sebagai manhajul fikr (kerangka pikir) tetapi juga sebagai manhajul harokah (landasan bergerak). Sebagai generasi muda, kita tidak hanya mampu berpikir saja dalam tataran konsep tetapi juga harus bisa bertindak," ujarnya.

Baca: SKOR Persib Vs PSIS Big Match Liga 1 2019 Siaran Langsung di Indosiar, Sedang Berlangsung Babak I

Baca: Rapat Kerja KUD Sasuki SP II Maboh Permai, Miliki 2 Agenda

Baca: DPC PTGMI Kubu Raya Gelar Berbagai Agenda di Muscab, Baksos Hingga Pelantikan Ketua

Irma menjelaskan, Ahlussunah Wal Jamaah merupakan falsafah hidup yang membentuk sistem keyakinan, metode pemikiran dan tata nilai. Dengan cakupan itu, Aswaja menjadi sangat luas dan menyeluruh, sehingga bisa disebut way of life (cara hidup) sebagaimana Islam itu sendiri.

Lebih lanjut dia mengatakan, mengamalkan ajaran Aswaja tidak hanya diniati sebagai ajaran agama, tetapi sekaligus juga dipahami sebagai tradisi dan budaya.

"Para ulama dan wali dahulu ketika menyiarkan Islam melalui sarana tradisi dan budaya setempat, sehingga agama yang diajarkan bisa diterima di kalangan masyarakat setempat dan benar-benar diresapi sebagai sarana hidup. Ketika agama diletakkan dalam ranah tradisi, maka akan menjadi kokoh. Selama tradisi tersebut tidak bertentangan ajaran agama Islam," terangnya.

"Sebagai contoh melakukan tahlilan bagi orang yang meninggal, yang artinya kita melakukan amalan tersebut untuk mendoakan arwahnya. Walaupun di kalangan Islam modernis menganggap itu bid’ah. Tetapi orang awam masih merasa harus menjalankan amalan tersebut. Karena ajaran tersebut juga sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi sejak zaman dulu," timpalnya.

Untuk itu, lanjut Irma, sebagai generasi muda harus selalu menjaga tradisi agar tetap utuh dan tetap ada. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak menjerumuskan ke ajaran yang menyesatkan.

Kata Irma, keberagaman itu harus terjaga agar NKRI tetap tegak di bumi pertiwi. Menjaga keutuhan NKRI merupakan kewajiban setiap warga Indonesia termasuk para generasi muda.

"Kita sebagai generasi muda juga harus menyadari isu-isu pihak yang ingin merongrong NKRI dengan mengatas namakan agama. Kita sebagai warga Indonesia harus mencintai negara kita dengan berbagai keragaman budaya adat istiadat, agama, etnis yang ada. Sebagai warga Indonesia kita harus memiliki toleransi antar sesama umat beragama. Bisa kita lihat, Jihad yang selama ini dilakukan kaum-kaum radikal dimaknai sebagai perang dan memerangi orang yang berbeda agama bahkan sesama agama yang tak sepaham dengannya. Dan jihad yang seperti itu tidak dibenarkan dalam agama Islam," ucapnya.

"Jangan sampai kita terpengaruh oleh paham-paham radikal yang sedang berkembang sekarang. Islam Indonesia merupakan Islam yang merangkul bukan Islam yang saling membunuh, Islam yang ramah bukan Islam yang marah dan Islam yang moderat bukan Islam yang menjerat. Kita sebagai generasi muda harus mencintai agama kita dan menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI. Indonesia adalah negara kesatuan. Jangan sampai kita terpecah belah oleh paham-paham radikal yang ingin menghancurkan keutahan negara kita," tutur Irma.

Sekolag Aswaja dilaksanakan sehari. Kegiatan ini dihadiri Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Kota Singkawang, alumni PMII, pengasuh pesantren, dan pengurus remaja masjid.

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved