DAD Kapuas Hulu Hadiri Acara Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894

Antonius menjelaskan, lamanya perjalanansekitar sepekan hingga 10 hari. Diharapkan, semua berjalan lancar tanpa ada ganguan apapun.

DAD Kapuas Hulu Hadiri Acara Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894
TRIBUNPONTIANAK/Sahirul Hakim
Ketua DAD Kabupaten Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero saat meminta keberangkatan rombongan kegiatan napak tilas damai Tumbang Anoi 1894, di Cagar Budaya Rumah Betang Damang Batu, Desa Tumbang Anoi Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah. 

DAD Kapuas Hulu Hadiri Acara Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894

KAPUAS HULU - Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero menghadiri langsung acara napak tilas damai Tumbang Anoi 1894, di Cagar Budaya Rumah Betang Damang Batu, Desa Tumbang Anoi Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah.

Acara tersebut akan berlangsung dari tanggal 22-24 Juli 2019. Dimana kata Antonius, Napak tilas damai di Tumbang Anoi ini sudah dipersiapkan sejak lama. "Kita ikut berpatisipasi, karena sudah koordinasi dengan DAD dan Pemerintah Daerah kita," ujarnya kepada wartawan, Kamis (18/7/2019).

Antonius menjelaskan, lamanya perjalanansekitar sepekan hingga 10 hari. Diharapkan, semua berjalan lancar tanpa ada ganguan apapun. Maka rombongan dari Kapuas Hulu perlu lebih awal bertolak menuju tempat kegiatan.

Baca: Ekspor Biji Pinang Asal Kalbar Menggeliat, Kementan Dorong Ekspor Dalam Bentuk Olahan

Baca: VIDEO: Ungkap Kasus Narkoba, Polisi Sita Barang Bukti 1,5 Kg Sabu dan Uang Tunai Rp 200 Juta

Baca: Kasat Pol-PP dan Damkar Sintang Sebut Kebakaran di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

"Kami mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan napak tilas damai Tumbang Anoi tersebut, karena merupakan sejarah bagi Suku Dayak yang bermakna dan perdamaian," ucapnya.

Menurutnya kegiatan tersebut, bisa menjadi contoh masyarakat Dayak yang cinta damai. Karena dari situ sudah dimulai sebuah ikrar oleh masyarkat Dayak untuk tidak lagi melakukan kekerasan.

"Kita berharap, apa yang sudah diupayakan dan diputus oleh para leluhur itu harus dihargai. Karena sangat berarti, sehingga kita harus mengenang jasa mereka apa yang sudah diputuskan itu dapat berjalan wajar, tanpa ada perbedaan. Kita masyarakat Dayak sadar kita multi suku, agama jadikan itu sebagai modal dalam mengikat persatuan," ungkapnya.

Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved