Mengingat Sejarah Penting, Berikut Tanggapan Para Mahasiswa Terkait Peristiwa Mandor

Kalau detail sejarah nya kurang tau banyak sih, tapi saya asal dari desa salatiga, kecamatan mandor.

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Asih Astarini, Dian Afrilla, Firdaus Alfarizi D.H 

Mengingat Sejarah Penting, Berikut Tanggapan Para Mahasiswa Terkait Peristiwa Mandor

PONTIANAK- Masih ingatkan kamu sejarah dan peristiwa Mandor?. Sebagai generasi bangsa, memperingati peristiwa Mandor adalah suatu penghormatan yang hak terhadap para pejuang-pejuang kita dimasa lampau.

Mengarungi sejarah, peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944 di Kabupaten Landak.

Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang.

Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Kalbar melalui paripurna DPRD Kalbar merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.

Baca: Berikut Ini Profil Pemeran Utama Film Pendek Satu, Indah Marwanto

Baca: Ini Arti Akcaya yang Menjadi Motto Kalimantan Barat

Dilihat dari Wikipedia, menurut data yang ada dari sejarah, jumlah korban dari peristiwa Mandor tersebut adalah kurang lebih 21.037 orang, tetapi Jepang menolaknya dan menganggap hanya 1.000 korban saja.

Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksukaan penjajah Jepang terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang ada di Bumi Kalbar.

Sebelum terjadi peristiwa Mandor terdapat peristiwa cap kapak dimana kala itu pemerintah Jepang mendobrak pintu - pintu rumah rakyat mereka yang tidak ingin terjadi pemberontakan di Kalimantan Barat.

Meskipun demikian ternyata menurut sejarah yang dibantai bukan hanya kaum cendekiawan maupun feodal namun juga rakyat-rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa.

Tak ayal, Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji telah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada seluruh masyarakat, Lembaga Pendidikan, perkantoran pemerintahan, BUMN dan swasta untuk memperingati hari berkabung daerah pada Jumat lalu.

Namun, kurangnya pengetahuan akan hal itu masih banyak sejumlah oknum pengusaha dan instansi yang tidak menaati untuk menurunkan bendera setengah tiang yang telah diperintahkan oleh Gubernur Kalbar melalui surat edaran nya tersebut.

Jadi gimana menurut kamu nih para generasi bangsa? Indonesia yang kaya akan sejarah juga perlu kita ingat ya!.

Nama lengkap : Asih Astarini 
Asal kampus : Universitas Tanjungpura 
Jurusan : Geofisika

"Kalau detail sejarah nya kurang tau banyak sih,  tapi saya asal dari desa salatiga,  kecamatan mandor.  Jadi sedikit tau tentang mandor.  Menurut saya,  Tragedi mandor berdarah pada masa penjajahan jepang dulu sangat penting untuk diingat kembali, karna dengan mengingat tragedi tersebut, mampu menumbuhkan rasa nasionalisme kita sebagai warga negara Indonesia khusus warga mandor, Kalimantan barat.  Mengenai oknum yang tidak mengindahkan peraturan gubernur tentang bendera setengah tiang menurut saya sangat disayangkan, karena dengan kita mengibarkan bendera setengah tiang, berarti kita sudah turut serta dalam Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni,".

Nama lengkap : Dian Afrilla
Jurusan : Farmasi
Fakultas kedokteran
Universitas Tanjungpura

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved